NYANGAHATN

Posted by Yohanes Supriyadi On Oktober -2- 2008

Pagi-pagi sekali, saya sudah berangkat dari rumah di kota pontianak. Dengan sepeda motor merk Yamaha VegaR, saya menerobos kabut asap yang dingin melaju dijalanan kota yang masih sangat sepi. Hari itu, sabtu akhir pekan, saya dijadwalkan untuk “pulang kampung”. Kami di Pontianak, bersama anak-anak asal pedalaman sejak tahun 1999, mendeklarasikan program jelajah budaya yang bernama “Gerakan Pulang Kampung” atau disingkat GPK. Kali ini, secara khusus saya bertujuan untuk menelusuri religi orang Dayak Kanayatn di Kampung Rees, Desa Rees Kecamatan Menjalin Kabupaten Landak.

PENINDASAN DISEKOLAH

Posted by Author On Month - Day - 2008

Selama bekerja dengan target group anak-anak dan remaja pada 41 sekolah tingkat SMP dan SMU di 5 Kabupaten/Kota se-Kalbar sejak 2005 lalu, saya mendapatkan beberapa hal menarik untuk dianalisis. Misalnya, beberapa waktu yang lalu diberitakan seorang anak harus dibawa ke rumah sakit, dalam perjalanan menemui ajalnya akibat sebuah penindasan oleh temannya sendiri

SIR CHARLES JAMES BROOKE

Posted by Yohanes Supriyadi On Month - Day - 2009

Di Kuching,setelah membeli buku The White Rajah of Sarawak, disebuah toko buku, saya jalan-jalan kearah water front city. ditepian sungai sarawak ini, ada bangunan tua yang masih megah, menandakan kuasa sejarah ditempat ini. tidak saya kira, rupanya ada tugu kecil yang tertulis 'Sir James Brooke, rajah of Sarawak". saya terkesima.saya sungguh tidak menyangka bisa ada ditempat ini. sejak mahasiswa, berulang-ulang kata-kata Brooke masuk diotak saya, khususnya tentang pesan beliau kepada kami (Orang Dayak di Borneo) sebagaimana ditulisnya dalam buku yang barusan saya beli.

DI VILLA JERUSALEM

Posted by Yohanes Supriyadi On Month - Day - Year

Karena kemalaman dan penat, saya bersama 7 rekan dari Borneo Tribune menginap di sebuh villa di atas bukit, kawasan Tasau Kilat, 5 Km dari Kota Sanggau. Akim (rekan Mering) berbaik hati meminjamkan Villa-nya kepada kami sehingga pagi itu kami dapat menikmati pemandangan pagi yang indah, berbalut kabut dari puncak. Sebelum bertolak ke Pontianak, kami berpose di halaman samping Villa.Setelah itu kami sarapan dengan nasi goreng ikan Mas di caffe Bouleva, tempat pemancingan ikan yang letaknya tak jauh di dr kota Sanggau.

HUTAN KALIMANTAN BARAT, KEMANA ARAHNYA ?

Posted by Yohanes Supriyadi On Month - Day - 2008

Propinsi Kalimantan Barat trletak di bagian barat pulau kaimantan atau di antar garis 2º 08’ LU hinggar 30º 05’ LS dan diantara 108º0’BT hingga 114º 10’BT, seluas 146.807 km2.Berdasarkan letak giografis yang spesifik ini maka, Kalimantan barat dilalui oleh garis khatulistiwa (garis lintang 0º) tepatnya di atas kota Pontianak, karena pengaruh letak ini pula, maka Kalbar adalah salah satu dari daerah tropik dengan suhu udara cukup tinggi serta di iringi kelembaban yang tinggi.

DAYAK EKSPLORER

Diposkan oleh Yohanes Supriyadi 0 komentar
Selama kurang lebih 45 menit, saya menonton sebuah film dokumenter era 1930-an, disebuah perkampungan dayak dipedalaman Borneo. Saya tidak tahu persis, siapa yang mendokumentasikan kehidupan sehari-hari Dayak ini, yang saya tahu hanyalah bahwa saya mendapatkan film ini dari kakak yang yang berprofesi sebagai suster dikongregasi SND, sekarang dia bertugas di perbatasan Flores-Timor Leste.
Film ini diawali dengan perjuangan 9 orang Dayak, yang mudik sebuah sungai dengan tiga buah perahu besar dan sangat panjang, mungkin panjangnya sekitar 6-8 meter. Tubuh mereka kekar dan berotot. Rambutnya dipotong (mirip pendekar shaolin). Mereka berteriak-teriak, saling memberi semangat. Dengan beberapa batang tongkat bambu, mereka menerjang arus sungai yang sedemikian deras, berliku, terjal dan penuh bebatuan. Terkadang, air sungai masuk diperahu dan harus dibuang. Didalam perahu, tampak seorang nenek, yang mungkin menderita sakit. Perahu juga dipenuhi beragam peralatan; pakaian layak pakai, obat-obatan, senjata api larang panjang, peluru dan sejumlah roti. Disepanjang sungai, rombongan beberapa kali terhenti, karena harus turun dan menarik perahu. Saya menyaksikannya mirip dengan sebuah olahraga sungai; arung jeram, tetapi ini bukan permainan olahraga, ini kehidupan nyata Dayak.
Slide berikutnya menceritakan pemandangan sebuah kampung Dayak. Tampak seorang lelaki sedang membuat batangan sumpit (alat tradisional) untuk menembak. 2 anak kecil asyik bermain dibatang-batang kayu yang tumbang dan lapuk. Mereka tidak berpakaian, perut mereka buncit. Seorang ibu, sedang membakar babi hutan, ia bertelanjang dada. Sesekali suara monyet memekakan telinga. Setelah batangan sumpit hampir selesai, seseorang yang sudah agak tua membidik dan mencobanya. Mungkin saja ia ahli dalam pembuatan sumpit. Prosesi pembuatan sumpit ini diiringi dengan permainan alat musik “genggong”, dimainkan seorang bocah dan ayahnya. Alat musik ini juga tradisional, karena terbuat dari kayu dan irisan bambu.
Pada slide berikutnya, serombongan besar orang dewasa berjalan kaki mengangkut peralatan dari perahu tadi. Mereka menuju kampung, yang dikelilingi pohon-pohon kelapa dan terletak dipinggir sungai. Dikampung, ibu-ibu dan anak-anak sedang memainkan musik; ada gong, dau, dll. Mereka bersuka cita.
Slide berikutnya, warga kampung sedang melangsungkan prosesi upacara adat diperladangan. Mereka menggelar “baburukng”, yang bertujuan mohon petunjuk Jubata untuk membuka ladang dihutan terdekat. Seorang imam berdoa dengan melengking, beberapa orang menyiapkan peralatan. Di udara, seekor elang berputar-putar dengan gagahnya. Ia mendengar bunyi keras dari sebuah gong yang ditabuh warga. Yang unik, seekor anak ayam ditusuk hidup-hidup (mirip disate), ditempatkan disebuah pohon. Elang berputar-putar tepat dipohon ini. Sepulang dari lokasi upacara, mereka kembali menggelar tari-tarian diperkampungan. Lelaki dewasa menarikan tarian perang, dengan peralatan perang yang unik.alat musiknya hanyalah sebuah “sape’, yang dimainkan seorang pemuda, mirip shaolin kung fu. Malam harinya, mereka menggelar ritual lagi dirumah panjang. Mereka membersihkan tengkorak kepala hasil pengayauan (perburuan kepala/head hunter).
Pada slide berikutnya, tampak seorang gadis memberi makan ternak, utamanya ayam. Ia mengurung ayam disebuah “kurungan” keci dan dinaikan keatas (mirip memelihara burung). Di sungai, 6 orang anak bertelanjang bermain lanting. Dengan sebatang kayu lempung, mereka menerjang ombak, arus sungai yang deras. Mereka terjun dari bebatuan yang terjal dan besar. Mereka seakan tidak takut, bahaya.
Diseberang, serombongan lelaki baru pulang dari ladang dan perburuan. Seorang kakek sedang memanggul seekor babi hutan, hasil buruan. Mereka melintasi “jembatan” gantung, yang terbuat dari anyaman bambu dan rotan. Beberapa ekor anjing mengiringi perjalanan kakek ini. Tak jauh dari rumah, seorang nenek sedang makan sirih (ngampa’) dan menganyam caping(tarinak). Beberapa lainya sedang menganyam tikar dari rotan (bide). Disudut kiri, seorang kakek dengan menggunakan sebatang bambu mengiris tembakau hutan, sebagai bahan dasar rokok. Disampingnya, 2 anak berusia sekitar 5 tahun sedang merokok dengan santainya. Dikejauhan, kakek menjemur tembakau yang sudah diiris, ia diatas batu, tepian sebuah sungai besar.
Pada slide berikutnya, tampak warga kampung mengalami kesedihan. Seorang warga meninggal dunia. Lelaki dewasa menyiapkan segala keperluan upacara pemakaman. Anak-anak tak tampak, mereka dikurung diatas. Jenazah dipanggul dan dibawa disebuah sungai untuk dinaikan perahu. Jenazah sudah diberi pakaian lengkap, layaknya pendekar sakti. Setelah sampai disungai, jenazah ini dimasukan disebuah peti mati dan dinaikan disebuah perahu untuk diseberangkan. Tiba diseberang, peti mati dinaikan diatas para-para (pondok khusus) dan disimpan disitu. Beberapa lama kemudian, peti mati diturunkan. Tengkorak, dan tulang belulang dikumpulkan dan dimasukan di sebuah jare (pemanggul padi) untuk kemudian disemayamkan. Tulang-belulang ini kemudian dimasukan disebuah tempayan dan dipasang diatas ukiran kayu yang dibuat khusus untuk penyimpanan abu dan tulang belulang. Jadi, kuburan zaman dahulu tidak ditanam dalam tanah, tetapi dipohon kayu.
Pada slide berikutnya, warga kampung sedang menuba ikan disungai, dengan menggunakan tanaman tuba. Mereka mencari ikan sungai. Tua muda, lelaki perempuan semua bekerja. Sebagian kecil memasak nasi di dalam bambu, dan memasak ikan, juga didalam bambu. Tidak ada piring zaman itu, termasuk sendok yang hanya terbuat dari bambu yang diukir sedemikian rupa. Tak jauh dari arena masak, seorang bocah menggigit batangan tebu.









Baca Selengkapnya..
Dari pengalaman politiknya, Orang Dayak termasuk suku bangsa yang paling “manut” (taat dan patuh) terhadap pemerintah yang berkuasa di Indonesia, baik sejak Koloni Cina (Lan Fang dan Monterado), Kesultanan Islam, Kolonial Belanda, Jepang, Presiden Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurahman Wahid, Megawati Soekarno Putri, dan Soesilo Bambang Yudhoyono. Belum ada sejarah pemberontakan terhadap pemerintah yang berkuasa dikalangan Dayak. Dayak bukan tipikal suku bangsa yang suka memberontak, apalagi melepaskan diri dari negara. (bandingkan dengan Aceh, Maluku, Papua, Sulsel, DI TII, dll). Daya tekan kaum Dayak terhadap pemerintah rendah, karena memang budayanya memang begitu. Tidak heran, sejak kemerdekan hingga kini, tidak pernah satupun tokoh Dayak yang dipercaya sebagai pemimpin nasional Indonesia (baik Presiden, Wakil Presiden, Ketua DPR, Ketua MPR, maupun pejabat tinggi negara di Jakarta). Bahkan untuk diangkat sebagai Pahlawan Nasional saja, sepuluh juta Dayak di Kalimantan hanya seorang saja (Djilik Riwut, mantan Gubernur Kalimantan Tengah), padahal tak terhitung tokoh Dayak menjadi korban keganasan penjajah kolonial karena melakukan perlawanan (Bandingkan dengan Pahlawan Nasional asal pulau lain di Indonesia). Ada apa ? karena, Dayak tidak pernah menuntut, Dayak taat dengan pemimpin (walaupun mereka tahu pemimpin itu tidak berpihak pada mereka, membuat mereka marginal, membuat mereka miskin, dll).
Pada Pemilu Presiden Langsung 2004, Kaum Dayak tampaknya lebih condong ke Megawati Soekarno Putri, terbukti perolehan suara Mega-Hasyim signifikan dikedua putaran Pilpres. Beberapa dasar yang disampaikan warga Dayak kepada figur Mega adalah bahwa Mega titisan Bapaknya, Alm. Soekarno, yang sangat dicintai Rakyat Dayak. Pada era Soekarno, Kaum Dayak berhasil mengangkat derajatnya dalam berbagai bidang, baik pendidikan, pemerintahan dan politik. Diera ini misalnya, Dayak mulai mengenal dan mengembangkan sekolah-sekolah dipedesaan, mereka juga mulai melirik pegawai negeri sipil. Beberapa jabatan politik juga berhasil diraih. “hutang” politik inilah yang dibayar Dayak kepada Megawati Soekarno Putri pada Pilpres 2004. Sebagaimana diketahui, pasca Soekarno, Dayak kembali tenggelam dalam kubangan lumpur. Masuk PNS, Militer, sulit. Masuk di BUMN sulit, bahkan tanah mereka habis dikapling. Pejabat pemerintahan apalagi. Pokoknya sulit dibayangkan.
Minggu lalu, seorang warga Dayak dari pedalaman ketemu saya.
“siapa Presiden yang akan dipilih ?“
“Megawati”
“kenapa Mega ?”
“pada masa Megawati Presiden, harga karet stabil. Petani karet mampu hidup, artinya, Mega mampu menjaga pintu ekonomi rakyat miskin seperti kami”
“.../jfhghgkgkhgkhhjh”
Ya, itu alasan warga Dayak awam. Menarik sekali, kalau kita analisis. Dengan kesederhanaan, kemiskinannya, warga Dayak dapat melihat figur pemimpin Indonesia yang mampu menjaga taraf hidup mereka dikemudian hari. Dayak tidak menuntut lebih dari Presiden Indonesia, Dayak tidak menuntut lepas dari Negara Indonesia. Mereka hanya menuntut; kembalikan situasi ekonomi rakyat seperti masa Megawati, dimana harga karet tinggi sehingga para petani karet mampu berobat, mampu menyekolahkan anaknya dan mampu tersenyum bahagia !!!!



Baca Selengkapnya..
Pembaca yang terhormat,agar sejarah politik Dayak di Kalimantan Barat terdokumentasikan, saya mencoba untuk merangkainya dari berbagai sumber. mudah-mudahan dapat dilengkapi oleh kawan-kawan peminat sejarah dan politik Dayak. mohon kritik dan sarannya serta masukan datanya dikirim via email ke saya. terima kasih.


22 Mei - 24 Juli 1894
Musyawarah Besar Tumbang Anoi di Desa Huron Anoi Kahayan Ulu Kalimantan Tengah. Para kepala adat se-kalimantan berkumpul dan sepakat untuk menghentikan “pengayauan” antar orang Dayak. Musyawarah ini disaksikan oleh pemerintah kolonial Belanda.

1919
Berdiri Sarikat Dayak di Kalimantan Tengah. Pendirinya M. Lampe, Philips Sinar, Haji Abdulgani, Sian L. Kamis, Tamanggung Toendan, Achmad Anwar, Hausman Baboe dan Mohamad Norman.

20 Agustus 1938
Sarikat Dayak diubah menjadi Pakat Dayak. Kantor pusat dipindahkan ke Kalimantan Selatan. Ketua umumnya sdr Mahir Mahar

13 Mei 1944
Deklarasi Angkatan Perang Majang Desa. Dari bulan April hingga Agustus 1944, terjadi Perang yang dikenal dengan Perang Madjang Desa di Embuan Kunyil, Kec. Meliau Kab. Sanggau. Pendirinya Temenggung Mandi/Pang Dandan, Menera alias Pang Suma, Agustinus Timbang,dkk

30 Oktober 1945
Berdiri Daya In Action (DIA) di Putussibau Kapuas Hulu Kalbar, didirikan oleh FC. Palaoensoeka,dkk dengan pastor moderator Pastor Adikarjana,SJ.

1 Nopember 1945
DIA diubah menjadi Partai Persatuan Daya (PD). Kantor pusat dipindahkan ke Pontianak. Tokoh-tokohnya antara lain Oevaang, AF Korak, Lim Bak Meng, Tio Kiang Sun, HM Sauk, FC Palaoensoeka.

Oktober 1946
NICA mendirikan sebuah Dewan Kalimantan Barat yang beranggotakan perwakilan dari 40 kelompok etnis, pegawai pemerintah dan seorang anggota dari masing-masing keswaprajaan yang baru dikukuhkan kembali. Letnan Gubernur Van Mook tampak menggunakan dewan ini sebagai batu loncatan untuk membuat negara sendiri di Kalimantan Barat seperti yang telah dilakukannya untuk negara Indonesia Timur di dalam kaitannya mendirikan Negera Indonesia Serikat (federasi)

12 Mei 1947
Karesidenan Kalbar diubah menjadi Daerah Istimewa Kalimantan Barat. Melalui DIKB ini, para pengurus PD (Oevaang, AF Korak, Lim Bak Meng, Tio Kiang Sun, HM Sauk) diangkat menjadi anggota badan pemerintah harian (Dagelijhk Bertuur) Daerah Istimewa Kalimantan Barat.

13-15 Juli 1950
Kongres Pertama PD Se-Kalimantan Barat di Sanggau. Ketua Umum pertama PD: FC Palaoensoeka. Dalam upayanya untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan colonial, PD mencanangkan program (dan kredo) pemberdayaan diri: “nasibmu terletak pada usahamu” (di usahamu letak nasibmu).

29 September 1955
PEMILU untuk anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Persatuan Daya (PD) memperoleh 146.054 suara atau 0,39% dan berhak mendapat 1 kursi DPR-RI.

15 Desember 1955
PEMILU anggota Konstituante. Persatuan Daya (PD) memperoleh 169.222 suara atau 0,45% dan berhak mendapat 3 kursi di Konstituante.

1 Maret 1956
Pengumuman Hasil Pemilu 1955. Berikut Hasil Pemilu 1955 di Kalbar: Persatuan Dayak 12 kursi, Masyumi 9 Kursi, PNI 4 kursi, NU 2 kursi, IPKI 1 kursi, PSI 1 kursi dan PKI 1 kursi. Total kursi yang tersedia 30 kursi.

1 Januari 1957
Propinsi Kalimantan Barat terbentuk berdasarkan UU No 25 Tahun 1956. Gubernur Pertama adalah AP. Afllus, periode 1957-1958 menyusul DA Yudadibrata pada periode 1958-1959.

13 Nopember 1958
Sidang I DPRD Kalbar yang menetapkan 3 calon Kepala Daerah yakni YC Oevang Oeray (PD), Musani A.Rani (Masyumi) dan Lumban Tobing (PNI). Melalui Keppres RI No 59 Tahun 1959, Oevang Oeray ditetapkan sebagai Kepala Daerah Swatantra Tingkat I Kalbar. Setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959, dikeluarkanlah Penpres No.6/1959 tentang Bentuk, Susunan, Tugas dan Kekuasaan Pemerintah Daerah.

14 Nopember 1959
Sidang DPRD Tk I Kalbar, Oevang Oeray berhasil terpilih sebagai Gubernur KDH Tk.I Kalbar yang disahkan oleh Keppres No.465/1959, tanggal 24 Desember 1959 untuk periode 1 Januari 1960-12 Juli 1966.

5 Juli 1959
Dekrit Presiden, yang menyatakan pembubaran Konstituante dan berlaku kembali UUD’45. Presiden Soekarno secara sepihak melalui Dekrit 5 Juli 1959 membentuk DPR-Gotong Royong (DPR-GR) dan MPR Sementara (MPRS) yang semua anggotanya diangkat presiden.

4 Juni 1960
Presiden membubarkan DPR-RI hasil Pemilu 1955 setelah sebelumnya dewan legislatif itu menolak RAPBN yang diajukan pemerintah.

1960-1966
Beraliansi dengan PNI, PD berhasil menempatkan orang-orangnya dipemerintahan, yakni:
1. Anggota konstituante (JC Oevang Oeray, A. Djelani, Wilibrodus Hitam yang meninggal dan digantikan Daniel, wedana Bengkayang).
2. DPR-RI (FC Palaunsoeka),
3. Gubernur (Oevang Oeray), dan
4. Bupati (MTH Djaman/Sanggau, GP Djaoeng/Sintang, Amastasius Syahdan/Kapuas Hulu dan Agustinus Djelani/Pontianak).

Bulan Juli 1966
Gubernur Oevang Oeray, digulingkan dari kekuasaannya karena dituduh orang Soekarno, karena posisinya di Partindo, sebuah partai politik yang didirikan Soekarno. Selain tokoh politik PD dihabisi pemerintah, banyak PNS Dayak yang diberhentikan dengan tuduhan terlibat PKI, sebuah partai yang mencoba melakukan KUDETA tahun 1965 di Jakarta dan membunuh jendral-jendral TNI Angkatan Darat

Menjelang tahun 1967
Oleh rezim Orde Baru, 4 Bupati orang Dayak dari PD juga diganti.

23 Maret 1985
Berdiri Dewan Adat Dayak Kab. Pontianak di SMP Anjungan Kab. Pontianak. Terpilih F. Bahaudin Kay sebagai Ketua Umum DAD.




9 Februari 1994
Pemilihan Bupati Sintang, Drs. LH Kadir kalah karena dibohongi Golkar. Disepanjang lereng Gunung Seha’ Kab. Landak ratusan massa Dayak memblokir jalan dan menebang pohon karena kecewa dengan Golkar.

12 Agustus 1994
Berdiri Majelis Adat Dayak Kalbar di Kota Pontianak. Terpilih sebagai ketua umum Yacobus F. Layang,SH, dan Sekretaris Umum DR. Piet Herman Abik M.App.Sc

1995
Pemilihan Bupati Kapuas Hulu, Yacobus F Layang,SH berhasil terpilih. Inilah Bupati pertama Orang Dayak pasca Persatuan Dayak (PD) atau selama pemerintah Orde Baru berkuasa.

13 Maret 1995
Dibentuk Pengurus Daerah Paguyuban Salus Populi Kalbar, yang diketuai Drs SM Kaphat, sebuah organisasi pengkaderan umat katolik dalam bidang politik.

1996/1997
Terjadi kerusuhan antar etnik Dayak dengan Madura di Sanggau Ledo Kabupaten Sambas (Sekarang Kabupaten Bengkayang), dan meluas di Kabupaten Pontianak dan Kabupaten Sanggau.

1998
Pemilihan Bupati Sanggau, Michael Anjioe terpilih sebagai Bupati Dayak ketiga di Kalbar. Terjadi aksi ribuan massa Dayak menolak Calon yang diusung Golkar (Drs Soemitro) dan menurunkan paksa ZA Baisuni (militer-madura) sebagai Bupati Sanggau.

5 Februari 1999
Pemilihan Bupati Pontianak, Drs. Cornelius Kimha, M.Si menjadi Bupati Dayak kedua di Kalbar. Terjadi pembakaran Gedung DPRD Mempawah oleh ribuan massa yang kecewa karena calonnya (Drs. Cornelis, Camat Menyuke, sekarang Gubernur Kalbar) tidak terakomodir partai politik di DPRD

1999
Terjadi kerusuhan antar etnik Melayu—Dayak dengan Madura di Kabupaten Sambas, meluas di Kabupaten Bengkayang dan Kota Singkawang.

5 Desember 1999
Musyawarah Besar Ikatan Keluarga Dayak Islam (IKDI) Kalbar di Auditorium Universitas Muhammadiyah Pontianak. Organisasi ini diketuai oleh Drs. Husni Amanullah.

1999
Pemilihan MPR-RI Utusan Daerah Kalbar, dalam pemilihan, Dayak menuntut perimbangan 2:2:1 (2 Dayak, 2 Melayu dan 1 Tionghoa), namun perjuangan ini kandas dan aksi ribuan massa Dayak dibalas dengan serangan fisik oleh TNI dan Polisi terhadap massa yang mencoba membakar Gedung DPRD Propinsi Kalbar. Beberapa orang massa luka-luka.

1999
Drs. Yacobus Luna terpilih sebagai plt Bupati Bengkayang, Bupati Dayak keempat di Kalbar. Pemekaran Kabupaten Sambas. Dalam Pemilihan Bupati Bengkayang, Yacobus Luna berhasil terpilih untuk periode 2000-2005

2001
Gagal pada pemilihan Bupati Pontianak tahun 1998, Drs Cornelis, terpilih sebagai Bupati Landak, Bupati Dayak kelima di Kalbar. Pemekaran Kabupaten Pontianak tahun 2000. dalam pemilihan Bupati Landak, Drs Cornelis berhasil terpilih sebagai bu[ati periode 2001-2006.



2002
Drs Elyakim Simon Djalil, terpilih sebagai Bupati Sintang, Bupati Dayak keenam di Kalbar. Ada aksi-aksi massa Dayak yang menuntut agar Bupati harus Dayak

Mei 2003
Menghadapi Pemilihan Gubernur Kalbar tahun 2003, GP Djaoeng, Mantan Bupati Sintang dimasa Partai Persatuan Dayak mengajak elit politik Dayak untuk bersatu (baca: KR No.93/Th.XII/Mei 2003)

18 November 2003
Blokade Bis disebadu sehubungan tidak adanya Calon Gubernur Dayak yang mandapat perahu partai politik di propinsi. Di Desa Sebadu dan Desa Garu Kab. Landak. Ribuan massa rakyat Dayak kecewa dan memblokir jalan serta menebang pohon. Aksi reda setelah Bupati Landak, Drs. Cornelis turun tangan dan mengajak massa untuk berhenti beraksi jalanan. Pada pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, kelompok Dayak tidak terwakili (semua menjadi Calon Wakil Gubernur)

9 April 2004
PEMILU Legislatif. Berikut perolehan kursi DPRD Propinsi Kalbar: Golkar 14 Kursi, PDIP 10 Kursi, PPP 8 Kursi, PD 7 Kursi, PAN 4 Kursi, PKS 2 Kursi, PDS 3 Kursi, PBR 2 Kursi, Merdeka, PDK, PKB,PNBK dan PKPB masing-masing 1 kursi. Total kursi di DPRD Propinsi 55 Kursi. 15 kursi diantaranya diisi oleh anggota DPRD Propinsi Kalbar dari etnis Dayak yang tersebar pada 6 partai politik yakni: PDIP, Golkar, P. Demokrat, P. Merdeka, PDK dan PDS.

2005
Pasca Pemilu 2004, sistem Pemilihan Kepala Daerah berubah menjadi Pemilihan Langsung oleh Rakyat (PILKADA) berdasarkan UU No 32 Tahun 2004 dan PP No 6 Tahun 2005. Syarat calon adalah diusung oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik dengan suara minimal 15%

26 Juli 2005
Berdiri secara resmi Pergerakan Cendekiawan Dayak (PCD) Kalbar sebagai wadah alternatif perjuangan politik orang Dayak. PCD bercita-cita mengumpulkan seluruh sumber daya lokal, nasional dan internasional untuk Kemajuan dan Perjuangan Politik Orang Dayak di Kalimantan. Tokoh-tokohnya Ir. Kristianus Atok, Ir. Dominikus Baen, Surianata S.Pd, Drs. Stevanus Buan, Yohanes Supriyadi, SE, Agustinus, S.Pd, Mikael, SH, Frans Ateng, SE, Lempeng, S.Pd, dll

2005
Pilkada Sintang, terpilih Drs. Milton Crosby, M,Si. (Dayak) Sebagai bupati (Gabungan Partai Politik)

2005
Pilkada Bengkayang, terpilih Drs. Yacobus Luna M.Si (Dayak) sebagai Bupati (PDI Perjuangan)

2005
Pilkada Sekadau, terpilih Simon Petrus,S.Sos (Dayak) sebagai Bupati (Gabungan Partai Politik)

2005
Pilkada Melawi, terpilih Drs. Suman Kurik,MM (Dayak) sebagai Bupati (Gabungan Partai Politik)

2006
Pilkada Landak, terpilih Drs. Cornelis,MH (Dayak) sebagai Bupati (PDI Perjuangan)

2007
Pilkada Gubernur Kalbar periode 2008-2013 yang dilaksanakan pada bulan Nopember 2007. Dalam Pilkada ini, Golkar dan PDIP secara otomatis dapat mencalonkan kadernya sebagai Calon Gubernur Kalbar karena melewati 15% dari total suara hasil Pemilu 2004. Golkar mengajukan pasangan Usman Jafar dengan LH Kadir, Sedangkan kandidat di PDIP adalah Drs. Cornelis,MH (Ketua DPD PDIP Kalbar yang juga Bupati Landak). Koalisi Partai Demokrat mengajukan Usman Sapta/ Ignatius Liong, dan partai non parlemen mengajukan Akil Mochtar/AR Mecer. Dari keempat kandidat Gubernur Kalbar tersebut diatas, hanya satu (1) dari kalangan etnis Dayak yakni Drs. Cornelis,MH.

2008
Tanggal 14 Januari 2008, telah dilantik Drs Cornelis MH dan Christiandy Sanjaya sebagai Gubernur Kalbar dan Wakil Gubernur Kalbar periode 2008-2013.





Baca Selengkapnya..

SENGATAN NYANDON TANAH SABIRIS

Diposkan oleh Yohanes Supriyadi 1 komentar
Oleh Yohanes Supriyadi

JARUM jam menunjukan pukul sebelas siang. Kalender mencatat hari kamis, September 1998. Dua sepeda motor berhenti, tepat di persimpangan antar kampung. Perkampungan yang tenang, tiba-tiba menjadi riuh. Dari atas motor, seseorang berteriak…..

“massa menjarah pasar pagi tadi”
“mereka berikat kepala kuning”
“orang pasar semua naik ke loteng (lantai 2), pasar diaduk-aduk”

Berjarak sepuluh meter, seseorang menyahut dengan berteriak, ”semua anak-anak dan perempuan masuk rumah !!!!”
. tentu saja anak-anak yang bermain berhamburan masuk ke dalam rumah. Wajah-wajah mereka kecut. Rona gelisah memancar. Duapuluh lima meter dari simpang, seseorang berjalan cepat. Ia menenteng mandau berikat kain merah. Matanya merah, keringat mengucur dari dahinya, mengkilat. Ia melirik ke kanan kiri jalan, sepertinya waspada. Tak lama, ia bergegas masuk rumah, ditengah kerumunan warga yang panik. Ada raut-raut wajah gelisah. Ada kebingungan, karena pasar yang menjadi bagian dari hidup mereka telah dikuasai penjarah. Itu berarti hidup mereka juga terancam. Tak lama, enam tetua dari enam kampong menggelar rapat mendadak. Rapat dipimpin Anam, tigapuluh menitan pertemuan itu. Anam adalah Ketua Dewan Adat Dayak Kecamatan. Hasil keputusan rapat disampaikan Ajam Pantang, Ketua Adat Mandor.

“Kita sepakat untuk menggelar adat “pamabakng” (adat pemberitahuan keadaan darurat kepada alam semesta dan manusia sekitar) di saka Manur”
“saya minta saudara-saudara menyumbang, sesuai kemampuan masing-masing”.

Hanya tiga puluh delapan kilometer dari kampong, aksi penjarahan terus berlanjut. Dua hari pasar berhasil dikuasai penjarah. Malam di hari kedua, hujan gerimis mengguyur tanah Sabiris. Lima buah sepeda motor dengan perlahan menembus, mereka tiga belas orang anggota. Anam pemimpin rombongan kecil ini. Mandau terikat erat dipinggang kirinya. Ada anggota menenteng tombak, dan bedil. Tanpa diketahui, rombongan berhasil menembus pasar yang di “jaga” para penjarah. Mereka menemui Awi Musa, Kepala Polisi setempat untuk berkoordinasi.

“Polisi kewalahan mengalau penjarah”
“syukurlah bapak hadir, sama-sama kita jaga pasar ini. Ini bagian dari kehidupan rakyat”

Anam memahami keluhan ini. Ia geram, dan ditengah situasi yang tidak terkendali, tiba-tiba….

“auuuuuuu………..auuuuuu…….aaauuuuuuu”
“aaauuuuuu…aauuuuuu.”
“iiiiihhaaaaaa…..”

Suara “nariu” (berteriak nyaring sambil menghentakkan tanah dengan tumit kaki kanan tiga kali) memecah ketakutan penghuni pasar, membahana menembus sudut-sudut kota. Tiga belas anggota menyerbu - merangsek pasar – menembus terminal. Dikira serangan ribuan orang, ratusan massa penjarah berkeliaran kocar kacir, lari menyelamatkan diri. Selang delapan jam, dua truk penuh massa menyusul dipagi buta. Pasar gegap gempita, memenuhi terminal, dan pertokoan.

“aaaaauuuuuu……..aaaauuuuuuuu”
“iiiiihhaaaaaaaaaaa”

Massa itu berteriak, emosi naik ke ubun-ubun. Balutan embun menghias wajah-wajah garang, tak kenal takut – tak kenal mati. Kain merah bertuliskan “kami anti penjarahan” terikat dikepala. Mandau telah terhunus, tombak berputar-putar, bedil lantak dikokang. Mereka siap perang terbuka dengan para penjarah. Situasi ini tentu sangat tidak menguntungkan bagi penjarah. Mereka sembunyi, mengendap dan sebagian besar melarikan diri. Mereka kembali ketempat asal, tak jauh dari pasar. Dalam tempo satu setengah jam kemudian, situasi pasar berangsur-angsur normal. Pemilik toko mulai berani keluar dan membuka toko, makanan ringan dan minuman dihidangkan kepada ahli waris para pengayau dari Sabiris.

*******

BILA ANDA tiba dipasar Sei Duri, singgahlah di terminal. Anda akan melihat cukup banyak mobil-mobil type L300, pangkeng (sejenis pick up, dipasang atap). Namun, bila anda berniat akan meneruskan perjalanan ke Sabandut, anda naik saja pangkeng jurusan Sei Duri-Capkala. Ada lima mobil yang hilir-mudik; Edo’, Boy, Awan, Siputih, dan Dugem. Dipastikan anda akan sampai ke kampong tujuan. Jalan pun sudah aspal, namun lobang banyak menganga, menunggu mangsa yang bernasib sial. Disepanjang jalan, anda akan melintasi banyak pemukiman warga dari bermacam-macam kelompok etnik. Juga ada hamparan sawah-sawah yang luas, dan mengingatkan kita pada secarik sejarah peradaban, pertanian yang diperkenalkan Orang Cina kepada penduduk Kalimantan Barat. Tak jauh dari pemukiman, disebelah kiri, ada empat buah pabrik tanah liat, bahan baku pembuatan keramik.
Dulu, jalan menuju Mandor ini hanya tanah merah – merekah – lengket dan menjengkelkan. Tahun 1987, jalan berubah menjadi aspal setengah kasar. Pepohonan dulu menjulurkan dahannya melindungi jalanan dan perkampungan, kini telah raib. Pohon berganti tiang-tiang listrik Negara. Itu situasi empat tahun lalu, ketika saya pertama kalinya menginjakkan kaki dikampung ini.
Di pusat kampong Mandor, tepat disimpang sebuah jalan tanah, kalau perjalanan dilanjutkan, anda akan sampai di Sabandut. Orang Cina menyebutnya Ha Bandut, Manur Ilir. Enam meter dari simpang Sabandut, berdiri sebuah bangunan rumah. Warnanya biru laut, agak kusam. Sebelah kiri rumah, berdiri menjulang sebuah tiang besi. Didepan bangunan kokoh itu, ada sebuah warung kopi. Pemiliknya ibu Kacos.

“itu rumah pak Anam, tokoh masyarakat disini”
“itu antenna stasiun radio komunitas disini”
“namanya Rakom Suara Marige, frekwensi 107,4 FM”
“radio ini dibantu oleh LSM, namanya Yayasan Pangingu Binua”
“kalau tidak salah, sudah ada sejak tiga tahun lalu”

Kacos, ibu pemilik warung didepan stasiun rakom. Pendengar setia siaran radio ini. Hanya limapuluh centimeter dari studio radio, muncul seseorang. Ia berkaca mata, tingginya juga biasa-biasa saja, cukup untuk ukuran orang Indonesia. “Saya Anam” ujarnya memperkenalkan diri, ia mengulurkan tangan. Bibirnya tersenyum. Sorot matanya lembut dan bersahabat. Kata Kacos, Anam adalah salah seorang tokoh aktivis komunitas, hasil dari migrasi karena perkawinan duapuluh delapan tahun silam. Sejak 2003, ia mulai terlibat aktiv bersama Yayasan Pangingu Binua sebagai CO (Community Organizer) diwilayah ini.

*********

DUA puluh lima menit dari rumah Anam, rimbunan daun asam raksasa membuat sesak, berserakan tak terurus disepanjang perjalanan. Dikejauhan, jejeran pagar kayu binger (sejenis kayu local yang sangat kuat) mengepung, tak jauh dari pemukiman padat penduduk. Jalannya berliku, mengikuti tekstur tanah persawahan di kanan-kiri jalan. Bila hari hujan, tanah menjadi semacam adonan lumpur yang menggelikan, melilit kaki. Pagi itu, burung oncet (bahasa ilmiahnya…..) menambah riang. Oncet seenaknya bertengger di dahan-dahan kayu kecil, persis depan sebuah bangunan tua, yang masih memancarkan sisa keagungannya dimasa lalu. Di teras, seorang kakek muncul. Ia tersenyum, matanya berkilat. Ia tersanjung, menyapa yang telah hadir. “saya Pak Ajung” jawabnya singkat, memperkenalkan diri. Ia bertelanjang dada, hanya mengenakan celana benglon pendek (celana yang terbuat dari kain karung gandum) berwarna putih dan sudah mulai kusam.
“Inilah kampong Sabandut” katanya membuka pembicaraan. Ia tertawa renyah, dibibir coklatnya terselip sebatang rokok longlat yang menyala. (rokok ini yang terbuat dari daun nipah. Longlat singkatan; digulung, dijilat, gambaran pelakunya ketika akan merokok). Dari data desa setempat, Sabandut hanyalah salah satu dari tiga belas kampong kecil yang tersebar disekitar pegunungan Batu Baya Komplek. Secara administrative, Desa Sabandut Kecamatan Mandor Capkala Kabupaten Bengkayang. Sebelum pemekaran dua tahun lalu, masih pemerintahan dusun, ada lima buah kampong tergabung. Setelah pemekaran, menjadi pemerintahan desa.
Bila anda mau pergi ke Sabandut, jaraknya sekitar 8 kilometer dari pusat kecamatan di Mandor. Dapat dilalui dengan jalan darat, khususnya berjalan kaki, sepeda engkol maupun sepeda motor. “bila dipaksakan dapat pula menggunakan kendaraan roda empat” ujar Yeyen (27 tahun), pemuda Kampung Jagu’, kampong tetangga. Penduduk Sabandut berjumlah 275 keluarga, 800-an jiwa. Dari segi etnik, umumnya etnik Dayak, Melayu dan sedikit Batak, yang sudah menikah dengan penduduk setempat. Warga Sabandut sehari-hari menyadap karet, sebagian besar bertani padi. Mereka membuka hutan untuk perladangan dan mengusahakan lahan basah untuk persawahan. Hanya ada 7 warga yang membuka toko, mereka menjual kebutuhan pokok. Toko juga menampung hasil karet. Untuk berkomunikasi sehari-hari, digunakan bahasa bajare, berdialek Melayu Sambas. Dialek ini agak beda dengan dialek bajare lainnya seperti yang saya temukan di Mempawah Hulu bagian utara atau Samalantan.

Hampir semua warga mengenal Pak Ajung dengan baik.
“Ia tinggal disebuah pemukiman yang agak jauh dari kampong, istilah lokalnya Parokng”, kata Sahidin Cogok (51 tahun), warga Kampung Mototn Buliatn, 1 Km dari Sabandut. Tak jauh dari bangunan tua itu, sebuah bukit berdiri dengan gagahnya. “seperti diapit tiga bukit” gumam saya. Ya, mungkin cerita Anam ada benarnya. Menurutnya, kata Capkala berasal dari bahasa Cina, Hiap Kala, yang berarti “terjepit diketiak”. Pak Ajung berdiri. Telunjuk jari kanannya mengarah ke bukit itu.

“Namanya Bukit Gantekng Mare”

Ia terdiam, mencoba mengingat sejarah nenek moyangnya. Matanya menerawang, keningnya berkerut. Bibirnya komat-kamit, ia marapal sesuatu.

“dibukit itu, dulu ada sebuah kampong bernama Sabiris. Warganya hidup dirumah bantang, 30 pintu, dipimpin oleh Ne Daem dan Ne Lebe”

Menurut cerita kakeknya, dimasa kepemimpinan Ne Daem dan Ne Lebe, warga hidup rukun dan damai. Untuk menjaga keamanan kampong, warga mengangkat 3 orang pangalangok (panglima perang) yakni Ne Takah, Ne Riukng, dan Ne Buliukng. Suatu ketika, warga Sabiris dikejutkan seseorang dihutan sedang mengendap-ngendap. Karena mencurigakan, ia ditangkap dan dibawa ke kampong. Pemuda itu bernama Nyapi, ia mengaku seorang anak kayo (salah satu rombongan pengayau/pemburu kepala) dari tanah Banyuke yang tersesat. Karena berperilaku baik dan mengesankan, Nyapi diajak tinggal oleh warga Sabiris.

“Ia tinggal sementara dengan Ne Daem, pemimpin Sabiris ketika itu”

Di dekat kampung Sabiris, dilembah Bukit Gantekng Mare, tinggal seorang gadis kayangan yang cantik jelita.

“Ia dikenal baik warga Sabiris, namanya Capala”
“Ia sangat cantik, kulitnya putih”
“Setiap hari, ia mandi disebuah riam, lembah bukit”

Suatu hari, Nyapi pergi ke hutan, mencari damar dan burukng rangok (burung enggang). Tak dinyana, ia bertemu gadis itu. Nyapi terpana dengan kecantikan Capala yang amat sempurna.

“Keduanya berkenalan dan saling tertarik”
“Namun Nyapi sadar, Capala bukan manusia biasa”

Perkenalan keduanya diketahui pemimpin bantang. Ne Daem berinisiatif untuk menikahkan keduanya. Beberapa tahun menikah, tiada seorangpun anak didapat. Nyapi sedih, padahal ia ingin keturunan yang berhak mewarisi kemampuannya kelak.

“Ia mencari akal, agar istrinya mau diajak ke tanah kelahirannya”

Pak Ajung terdiam. Matanya menerawang, mencoba mengingat sesuatu. Tangannya asyik memilih rokok longlat, beberapa batang disodorkan kepada saya.

“Namun,… Capala selalu menolak ajakan suaminya”
“Ia takut asalnya sebagai orang kayangan terbongkar keluarga suaminya”

Nyapi tidak menyerah, ia terus membujuk istrinya. Dan suatu hari, istrinya bersedia. Sepanjang perjalanan, muncul akal jahat Nyapi.

“Tepat disebuah lokasi, di Kampung Parit Mas sekarang, Nyapi nekad membunuhnya”
“Kepala sang istri kemudian hendak dibawanya ke Menyuke”

Diperjalanan, Nyapi singgah di Pakana, kepala sang istri diperlihatkannya dengan gagah kepada warga. Peristiwa pembunuhan Capala, terdengar warga Sabiris. Mereka sepakat mencari Nyapi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Beberapa pemuda sakti dikirim, mencarinya kehutan-hutan, menyeberangi sungai-sungai.

“Namun, pencarian ini sia-sia”
“tak ada informasi apapun didapat”

Karena lelah mencari, warga Sabiris memilih bakayo (permusuhan) dengan orang Banyuke, daerah asal Nyapi. Bukan Nyapi namanya kalau tidak bisa bersilat lidah. Karena takut bersua dengan Orang Sabiris diperjalanannya kelak, di Pakana, Nyapi menceritakan bahwa di daerah Sabiris banyak sekali musuh yang berusaha membunuhnya.

“Karuan saja orang Pakana terpancing dengan siasat Nyapi ini”
“mereka (warga Pakana) mengutus orang-orang terkuatnya untuk meneliti kekuatan anak kayo di Sabiris”

Pak Ajung menyerubut kopi panas yang terhidang. Ia menyulut sebatang rokok merk Cakra, yang sengaja saya beli dua hari lalu.

“Penelitian diperlukan untuk mengatur strategi peperangan nantinya”
“dari yang terbaik dari yang baik, terpilihlah Igak, Dume, Duan, Ote (perempuan), Kunda (perempuan) dan Nanju sebagai tim pangarentes (survey)”

Berhari-hari lamanya keenam orang ini berjalan menuju Sabiris.Namun sesampainya di daerah yang dituju itu, keenam orang ini tidak mendapati seorangpun warga Sabiris sebagaimana cerita Nyapi. Tidak kembalinya tim pangarentes, dan tidak mau terlibat permusuhan yang berkelanjutan antara warga Sabiris dan Menyuke, warga Pakana menginisiasi sebuah upacara perdamaian di Kuala Mempawah.

“Nama adatnya “pasamean”.
“Peraga yang harus disiapkan adalah 1 buah siam (tempayan)”
“Sababak pingatn putih (sebuah piring berwarna putih)”
“Seko’ manok calah (seekor ayam jantan berwarna merah)”
“Seko’ asu’ itapm (seekor anjing hitam)”
“Seko’ babotn itapm (seekor babi hitam)”.

Biasanya setelah adat pasamean, disusul adat “nyimah tanah”. Maknanya agar ada perdamaian orang Menyuke dengan orang Sabiris serta membersihkan tanah bekas pembunuhan Capala ditanah Gantekng Mare. “karena sejarah ini, sampai sekarang kalau ada pemuda Sabandut yang menikah dengan pemudi Banyuke, sebelum pesta perkawinan, dilakukan adat pasamean dulu”, ujar Sirin Banding, Kepala Adat Mandor. Ia adalah salah seorang keturunan Menyuke, dan pertama kali menyelenggarakan adat pasamean ketika menikah di Mandor.
Pada tahun 1740, 20 orang Cina didatangkan dari Brunei oleh Sultan Sambas untuk bekerja di pertambangan emas Monterado. Pedagang emas membuka pemukiman di Jam Tang (Singkawang), dan menyiapkan rumah-rumah bordil dan gudang candu. Hampir setiap akhir minggu, para pekerja tambang beristirahat di Jam Tang. Beberapa diantaranya kemudian memilih untuk berdagang, dan membuka pemukiman baru di Sei Duri. Karena pedagang maupun penambang ini bujangan, mereka kawin dengan penduduk setempat. Jumlah mereka pun semakin bertambah. Pasar dibangun, rumah toko juga dibangun, mirip pemukiman di Tiongkok, tanah air mereka. Menghindari peperangan sesama penambang, termasuk ekspansi wilayah tambang, para pedagang dan pekerja tambang ini membentuk kongsi Tai Kong (Parit Besar) dan Samto Kiaw (Tiga Jembatan). Tahun 1770, anggota Kongsi Samto Kiaw dan Tai Kong di perkampungan sekitar Monterado diserang Orang Dayak Saribas. Pemicunya adalah ketidakpuasan seorang Dayak dari Saribas kepada majikannya. Disebuah toko, seorang pemuda asal Kampung Saribas bekerja sebagai karani (pembantu).

“Ia telah bekerja selama 5 bulan, namun gajinya tak pernah dibayar”
“Setiap kali meminta gajinya, tak ada jawaban pasti dari majikan”.

“Ia sangat kesal, dan memilih pulang kampong” lanjut Pak Ajung. Sekali lagi, ia menyerubut kopinya yang mulai dingin itu.

“nah, di kampong, pemuda ini “menasehati” para orang tua”
“Jangan lagi mengirim anak bekerja sebagai karani ditoko Cina”
“saya sudah tertipu”.

Kontan saja warga kampong geger. Mereka marah. Beberapa pamarani (pemberani, bertemperamen keras dan kasar) bahkan mulai ada niat untuk menuntut balas dengan mengusir orang Cina. Kesepakatan diperoleh. Orang Cina harus diberi pelajaran. Tak lama, beberapa orang menggelar ritual khusus.

“Ritual Mato’, namanya”
“Mereka juga mengedarkan Bun Ka (mangkok merah)”
“Ini bertujuan untuk memberitahu warga Dayak bahwa mereka berniat akan menyerang Orang Cina di sekitar kampong-kampung Dayak”.

Malam hari, ratusan massa bergerak. Tangkitn terhunus, kepala dibalut dengan tali dari kulit tarap. Sebagian besar membawa tombak, tajam dan panjang. Rombongan merayap ditengah gelapnya malam dan rerimbunan hutan belantara. Mereka tiba tepat pagi hari buta.

“aaauuuuuuu……aaaauuuuuuu….aaaauuuuuuuuu”
“aaaauuuuuu…aaaauuuuu….auuuuuuu”

Suaranya sesahutan, memecah keheningan pagi. Kedatangan rombongan besar ini membuat warga Cina di Sabandut tidak mampu menahan serangan, mereka melarikan diri. Serangan ini sangat keras dan beringas.

“Ratusan keluarga Cina meninggalkan Sabandut dan kampong-kampung sekitarnya”
“Mereka melarikan diri kehutan-hutan terdekat”
“sebagian memilih jalur sungai hingga tembus ke Sei Duri”
“Sebagian kecil yang tetap bertahan tewas menggenaskan, kepala terpisah dari raga”

Dengan waktu singkat, Kampung Sabandut dan sekitarnya dikuasai. Sekelompok kecil dari massa yang dipimpin Ne Limo dan Ne Rimong, masuk kerumah-rumah penduduk. Mereka menemukan dua keluarga.

“kalian orang Dayak ?”
“ya..kami Orang Dayak”

Dua keluarga luput dari pembantaian. Identitas sebagai Dayak telah menyelamatkannya. Mereka adalah keluarga Kunda, yang menikah dengan Orang Cina dan tinggal di Sinyaodakng, sekarang dikenal Pujung. Tidak hanya Kunda yang selamat, keluarga Ote di Satanduk dan tinggal di Bukit Kinae juga. Ia menikah dengan seorang pemuda Cina, penambang emas Monterado. Kunda dan Ote, adalah dua anggota dari enam anggota pangarentes (kegiatan survey/mematai-matai) dari Pakana, yang pernah ditugasi untuk “memata-matai” kekuatan Orang Sabiris, atas laporan Nyapi. Rombongan kecil ini, takut dihukum warga yang mengutusnya karena tidak berhasil mendapatkan informasi yang cukup sesuai cerita Nyapi, memutuskan tidak kembali ke Pakana. Selain Ote dan Kunda, anggota lainnya adalah Igak, Dume. Keduanya kemudian menetap di Manur. Beberapa lainnya memutuskan untuk bermigrasi kehulu. Duan bermigrasi hingga menetap ke Sajingan, sedangkan Nanju kemudian bermigrasi kehulu Sungai Sarangan dan menetap di Bukit Sangkikng/Sadaniang”. Sepeninggal orang Cina, Ne’ Limo, Ne’ Rimong, Ote sekeluarga dan Kunda sekeluarga menetap dibekas pemukiman Cina ini. Mereka inilah leluhur warga kampong Sabandut hari ini.
Puluhan tahun lalu, seorang gadis Sabandut hamil diluar nikah. Perbuatan tercela ini sangat memalukan keluarganya, dan juga warga kampong. Atas kesepakatan bersama, gadis ini “diusir”. Itulah hukuman terbaik bagi para pelanggar adat.

“Gadis ini tidak lagi dianggap sebagai anak oleh orang tuanya”
“Oleh orang sekampungnya dianggap sebagai Urakng Laut”

Di kepulauan, gadis ini kemudian angkat oleh warga. Ia dinikahkan dengan seorang pemuda setempat. Ketika anaknya menjadi dewasa, ia kemudian bertanya kepada orangtuanya dari mana sebenarnya ia berasal.

“kamu asalnya Orang Darat”
“masih banyak keluargamu tinggal disana”

Tahu asal usulnya, timbul keinginan sang anak untuk melihat dan kenal dengan keluarga besarnya di daratan. Tak sengaja, sebuah kampong teruju. Kampung yang biasanya sepi, hari itu menjadi ramai. Mereka menyambut ramah kedatangan seorang pemuda berkulit coklat, berbeda dengan warna kulit mereka yang kuning langsat. Ia seorang pemuda sederhana, tinggal di sebuah pulau, pinggiran Laut Cina Selatan, tak jauh dari Sei Duri sekarang. Pemuda ini ahli dalam pembuatan kinsaratn, sebuah alat penggolahan padi menjadi beras. Teknologi baru pertanian padi yang dibawa pemuda pulau ini, tentu saja menarik perhatian warga lainnya yang masih menggunakan “lasukng” (lesung) untuk menumbuk padi. Setiap tahun, menjelang musim panen padi, pemuda dipanggil.

“Ia selalu diminta membuatkan kinsaratn baru, maupun memperbaiki yang dibuat sebelumnya”
“Namun, tetap saja keahliannya membuat kinsaratn tidak mampu ditiru”

Suatu kali, pemuda ini diminta untuk menetap.

“kamu kami beri sebuah kawasan hutan, untuk pemukiman baru”
“nanti, kami bantu membukanya, balasannya, kamu ajari kami membuat kinsaratn”

Pemuda itu setuju, ia kemudian membawa serta keluarganya. Anaknya empat, semua perempuan. Mat Kurau, ternyata adalah anak pulau, ibunya pernah diusir dari Kampung Sabandut puluhan tahun itu. Ia kemudian mengembangkan pemukiman baru, tak jauh dari Sabandut. Kini, pemukiman itu dikenal dengan Pawangi. Warganya semua beragama islam, agama yang dibawa Mat Kurau, dari pulau.

*******

SABANDUT MEMILIKi sejarah panjang dalam pembangunan bidang pendidikan. Sebelum kemerdekaan Indonesia, sudah ada sekolah dasar yang didirikan oleh misi Katolik dan orang-orang Cina di Singkawang, antara lain di Kampung Pak Nibatn dan Satanuk. Sekolah-sekolah ini menggunakan dua bahasa, bahasa Cina dan bahasa Melayu. Ketika Jepang menguasai perkampungan, anak-anak sekolah terpaksa berhenti. Guru-guru banyak ditangkap, termasuk pastor yang berkebangsaan Belanda.
Ne Calek, salah seorang saksi sejarah. Ia ketika itu masih sekolah, kelas 2 SR di Satanuk. Ketika bercerita, tawanya tertahan. Matanya memerah. Ia teringat peristiwa yang menyedihkan kala itu. Bersama ayahnya, Ne Calek setiap hari dipaksa bekerja di persawahan milik Jepang yang sangat luas di daerah Malapis (sekarang daerah Sei Kunyit).

“Komandan Jepang itu bernama tuan Kasumi, pekerja diawasi beberapa orang mandor”
“Mandornya orang laut (melayu)”.

Bersama penduduk lainnya, ia membajak sawah hingga panen. Namun, padi tidak dibawa kerumah, semua diangkut tentara Jepang. Selama membajak, pekerja diberi makan ala kadarnya.
“yang paling sering, ya, makan tamora’ (ubi kayu kering dicampur beras)”.

Pakaianpun, terbuat dari balutan kulit tarap (kayu terap), lemnya dari karet (lateks). Karena itu, bila kena hujan, pakaian kamilepas-lepas hingga setengah telanjang. Tak lama, Jepang kemudian harus menyerah kepada tentara sekutu pimpinan Amerika Serikat. Sekolah-sekolah mulai berbenah lagi, murid-murid dipanggil untuk bersekolah. Ne Calek memutuskan melanjutkan, kelas dua. Ia juga masih ingat guru-guru yang mengajarnya kala itu.
“Saya diajar oleh Siden (Satanuk), Manurung (Orang Batak), Sundang (Sanggau Ledo), dan Dundang (Putusibau)”
“Mereka adalah alumni sekolah guru di Nyarumkop”
“Sekolah kami masih menggunakan rumah Tendek, dikenal dengan Pak Jimah sebagai ruang belajar”
Menurut Ne Calek, kepala guru waktu itu Agustinus Sundang.
“Ia berasal dari kampong Barimada, Ledo-Bengkayang”
“Ia alumni sekolah guru Nyarumkop tahun 1948”.
Dalam mengembangankan sekolah, Sundang tidak sendiri. Bersamanya ada 5 pastor yang datang dua kali setiap bulan.
“Tetapi pastor khusus mengajar agama katolik”
“Saya sendiri dibaptis oleh pastor Albrick di Nyarumkop pada tahun 1945”.
Selain Ne Calek, cukup banyak saksi sejarah yang masih hidup. Salah satunya Mambah, warga Mandor. Ia mengaku pernah sekolah di Pak Nibatn, tak jauh dari Sabandut.

“para guru dari Singkawang, mereka orang Cina”
“Didepan kelas, ada foto Mao Tse Tung, dan bendera bintang lima”.

Namun, Mambah tidak selesai sekolah, ia harus berhenti ditengah jalan, karena berkelahi dengan Lie Sin Sun, gurunya.

“saya terlambat, hujan sangat lebat”
“saya sampaikan alasan itu, tapi dia (gurunya) justru memaki-maki”
“saya terhina, dan tak sengaja, saya tinju saja mukanya hingga berdarah”

**********

RABAKNG hari itu sedang ramai. Nadin, warga setempat mengadakan pesta perkawinan anaknya. Seorang gadis Sabiris, dengan tertatih-tatih mendaki sebuah bukit. Ia mengunjungi Iyok, saudaranya di Marinso, kampong tetangga.
Kebetulan ada pesta, kamu jadi petugas solo. Solo dalam bahasa setempat berarti sumbangan warga yang hadir kepesta. Adat ini sudah dilakukan masyarakat dayak Kanyatn sejak turun temurun.
” Gadis itu menyanggupi, walaupun masih setengah hati. Demi menghargai kepercayaan saudaranya. Seorang guru muda ikut “ngoyokng” (berkunjung) kepesta itu, ia mengajar di Nyawan sejak tamat SPG di Singkawang tahun 1980. Nyawan adalah sebuah kampong tetangga, 2 jam perjalanan ke Rabakng. Ketika akan “nyolo” (mengisi buku tamu dan memasukan amplop), matanya nanar. Ia terkesima pada senyum manis sang petugas, gadis yang baru ia kenal.

“Itu awal kami kenal, setelah itu, yaaa….kami sering ketemuan”
Ia tertawa mengingat peristiwa bersejarah dalam hidupnya itu.Tak dinyana, jodoh sudah tergariskan. Sang guru muda memutuskan untuk menikahi gadis itu. Pada 7 Maret 1981, pasangan ini diberkati secara katolik oleh Pastor Frans Jansen, Pr dari Singkawang, di gedung SDN 01 Mandor. Hari itu, ia resmi menjadi warga Sabiris. “Sejak menikah, saya mengajar di SDN 01 Mandor” katanya singkat. Ia tersenyum. Sebatang rokok LA light terselib dibibirnya, asap mengepul keudara. Sejak tahun 1980-an, ada delapan (8) sekolah dasar diseluruh Kecamatan Mandor-Capkala, yakni di Mandor, Capkala, Satanduk, Aris, Sarangan, Parit Mas, Sabandut dan Medang. Sang guru muda itu, kini lebih dikenal Martinus Anam.
Anam hanya empat tahun menjadi guru biasa, sejak tahun 1985, ia diangkat menjadi Kepala SDN 07 di Mototn Buliatn. Ketika menjabat kepala sekolah inilah, ia kemudian semakin aktiv memfasilitasi pendirian sekolah lanjutan, salah satunya sebuah SMP di Mandor.

“Namanya SMP Purnama”
“Karena tidak ada guru yang sarjana, guru di SMP ini juga guru SD terdekat”
“Ada 6 guru yang mengajar”
“Kala itu belum ada satupun SMP di Mandor, anak-anak harus berjalan kaki sejauh 15 Km untuk sekolah di SMP Purnama Sei Pangkalan atau 34 Km berjalan kaki untuk sekolah di SMP Dwi Dharma Sei Duri”
Segala keterbatasan sarana, tenaga pengajar dan jumlah murid, tidak menyurutkan niat dan langkah Anam, ia tetap menekuni dan berusaha keras agar SMP ini diakui pemerintah dan berkembang.
“Kami masih menggunakan gedung SDN 01 Mandor”
“Syukurlah, pihak sekolah mengizinkan untuk pemakaian gedung”
Kini usaha yang dirintis Anam berkembang pesat. Sejak awal 2008 lalu, gedung SMP sudah ada dua, SMP Purnama telah dinegerikan menjadi SMPN 1 Capkala di Capkala dan SMPN 2 Capkala di Pawangi.
“Tahun 2006, kami juga mendirikan sebuah SMA di Capkala”
“Namanya SMA St Kristoforus”
Namun sejak 2008, SMA ini kembali di negerikan oleh pemerintah menjadi SMA Negeri 1 Capkala. Menurut Dionisius Frans Namhin, warga Sarangan, pendirian sekolah-sekolah di Kecamatan Mandor Capkala sejak tahun 1990-an tak lepas dari peran Anam sebagai Ketua Dewan Adat Dayak Kecamatan Sei Raya. Ia terpilih dalam Musyawarah Adat Dayak se-Kecamatan Sei Raya tahun 1997 lalu. Anam sadar dengan posisi politiknya ini. Ia tahu dari latar belakang sejarah, Orang Sabiris umumnya bertemperamen keras dan militant.
“Syukurlah ada YPB, yang mau membantu” ujarnya, suatu ketika.

YPB adalah sebuah LSM yang bergerak pada bidang pembangunan perdamaian. Kantornya di Kampung Raba, Kabupaten Landak. Salah satu kampong yang didampinginya adalah Sabandut, termasuk Mandor. Kelompok sasarannya adalah komunitas multietnis.
“Sasaran YPB tepat, karena Mandor Capkala sangat plural dari segi etnik”
“YPB juga berperan menjembatani masyarakat yang berbeda suku dan agama disini (Mandor)”
Salah satu peran penting YPB, menurut Anam adalah memfasilitasi sebuah Lokakarya Perencanaan Masyarakat Mutietnis tahun 2002 di SDN 01 Mandor. Dalam lokakarya ini, peserta sepakat untuk mendeklarasikan sebuah organisasi pemersatu. Berdirilah Forum Komunikasi Masyarakat Multietnis (FKME) Tingkat Kecamatan Mandor-Capkala.
“Organisasi ini penting sebagai alat komunikasi antar etnis yang ada”
“Selain sebagai jembatan, organisasi ini juga sebagai alat untuk pengembangan kapasitas diri pelakunya”
Untuk menjaga roh perjuangan, peserta lokakarya menyepakati agar figure yang dipilih sebagai pemimpin adalah figure yang diakui semua kelompok etnik yang ada.
“Nah, figure yang tepat itu adalah Pak Anam” ujar Sirin Banding, tokoh masyarakat Mandor.
Anam terpilih secara aklamasi sebagai Ketua FKME. Dalam sambutannya pertamanya, Anam menyampaikan kepada forum bahwa Orang Sabiris layak maju, sebab sejak lama Sabiris dikenal sebagai warga yang toleran.
“Namun, sekarang Sabiris sudah multietnis, multiagama dan demikian juga multibudaya”
“Kalau mengatasi permasalahan, mereka tidak segan-segan melakukan kekerasan bila jalan damai sulit ditempuh”
Komentar Anam mungkin ada benarnya. Menurut Pontius, dalam bukunya “Sejarah Samalantan”, karakter orang Dayak yang keras ini merupakan turunan dari peperangan demi peperangan yang teramat lekat sejak masuknya Cina dikawasan pertambangan Monterado, ratusan tahun lalu. Mandor dan Capkala, termasuk salah satu kampong Dayak yang “terengut” dalam kekuasaan kongsi penambang yang berpusat di Monterado.

“Itulah sebabnya, Dewan Adat Dayak ini sangat strategis untuk mengakomodir dan mengakselerasi semua kepentingan dan permasalahan social-politik yang ada agar tidak merayap menjadi aksi kekerasan”

Sebagai Ketua tingkat kecamatan, Anam membawahi 2 wilayah adat yang dikenal sebagai Binua (sebuah bentuk pemerintahan local, seperti pemerintahan desa sekarang ini), yakni Binua Atas dan Binua Bawah.

Lihat buku pemerintahan binua; terutama sejarah binua, system pemerintahan dan kondisinya kini.

“Kepala Binua Atas sekarang dijabat Sucipto, ia tinggal di Kampong Kucipu”.
“wilayah binua ini meliputi 3 desa; Desa Aris ketua adatnya Pak Olan, Desa Setanduk Kepala Adatnya Untek/Pak Orot dan Desa Capkala, Kepala Adatnya Sucipto sendiri, merangkap Kepala Binua”.
“…sedangkan Kepal Binua Bawah dijabat oleh Sirin Banding, ia tinggal di Kampung Manur Dalapm”.
“ wilayahnya terdiri dari Desa Mandor, ia sendiri merangkap Kepala Adatnya, Desa Sabandut dijabat oleh Besli Sihombing sebagai Kepala Adat dan Desa Pawangi, karena desa ini mayoritas Etnik Melayu, maka tidak diangkat Kepala Adatnya”

**********

DI SABANDUT, masyarakat yang terdiri dari kelompok etnik yang berbeda dapat bersatu. Tidak hanya Dayak dan Laut (Melayu) yang tinggal di Sabandut. Ditengah ratusan keluarga ini, ada 5 keluarga Batak yang telah menyatu didalamnya. Mereka dikenal sebagai Sihombing bersaudara. Adalah Jansen Sihombing, bekas tentara, yang melarikan diri ketika terjadi Perang Jepang tahun 1942. Jansen berasal dari Pahae, Sumatera Utara. Ia pertama kali menetap di Kampung Nyong Seng, sekarang dikenal sebagai Kampung Pak Nibatn. Ketika menjadi guru di SD Pak Nibatn, ia menikahi gadis Dayak asal Kampung Batas Rancang bernama Longkes. Dari perkawinannya ini, Jansen memiliki empat orang anak laki-laki,yakni Besli Sihombing, Beto Sigombing, Markus Sihombing dan Kimler Sihombing. Pension jadi guru tahun 1970, Jansen terjun kedunia politik. Ia masuk pengurus partai politik yang baru berfusi, Partai Demokrasi Indonesia (PDI) hingga akhir hayatnya.
Garis politik Jansen diikuti anak-anaknya, sekarang mereka menjadi pengurus PDI Perjuangan ditingkat kecamatan. Karena berdarah politik, anak-anak Jansen sebagian menjadi “orang penting” di Sabandut. Besli Sihombing, anak tertuanya pada pemilihan tanggal 5 Juli 2004 lalu, terpilih sebagai Kepala Adat Sabandut. Besli mengalahkan Amet Sulang, pejabat lama, orang Dayak asli.

“selisih suara hanya 3 suara, dari 100 pemilih yang ada”
“satu orang calon, Lamri, menyatakan mundur sebelum pemilihan”

Sebelum menjadi Kepala Adat, Besli menjabat sebagai Ketua II Badan Perwakilan Desa Mandor (sebelum pemekaran). Dalam mengatur adat dan hokum adat, Besli memiliki buku berjudul “Simpado”, sebuah buku hasil rumusan tetua-tetua adat di Ngabang. Buku ini terbitan Dewan Adat Dayak Kanayatn Kabupaten Pontianak, 1987 silam.

“buku inilah yang menjadi pegangan saya dalam memutus perkara”

Dalam menyelesaikan perkara berat, Besli tak segan-segan berkoordinasi dengan Dewan Adat Dayak kecamatan. Besli tidak bekerja sendiri, dalam pemerintahannya, ia dibantu oleh dua orang pejabat yang diangkatnya, yakni Ahian Codak diangkatnya sebagai juru tulis (sekretaris) dan Sabet sebagai pangarah tahutn (urusan pertanian). Namun, Besli mengaku, selama empat tahun menjabat, ia tidak pernah menemukan kendala dari warga yang mayoritas Dayak.

“ Sabandut merupakan kampong yang aman, tidak pernah ada kasus-kasus atau pelanggaran social”

Besli kini menjadi Mandor, disebuah perkebunan kelapa sawit di Sabandut yang baru berperasi Maret 2008 lalu. Ia membawahi 100-an pekerja. Berbeda dengan abangnya yang menjadi Kepala Adat, Beto Sihombing sukses menjadi salah satu dari tujuh pedagang besar di Sabandut.

“Beto gigih dalam berusaha, ia sangat ulet bekerja”
“wajarlah, ia mampu memiliki dua buah truk sebagai alat pengangkut karet”

Selain berdagang, Beto juga aktif diorganisasi. Ia dipilih anggota sebuah perkumpulan warga menjadi bendahara pada tanggal 1 April 2003 lalu. Perkumpulan ini mengelola sebuah group kesenian tradisional Dayak, Jonggan. Grup music ini diberi nama “Jonggan Pangingu Batu Baya”. Tidak hanya itu, Beto dan saudara-saudaranya juga aktif diorganisasi social lainnya, salah satunya kelompok arisan.

“Ada empat kelompok arisan warga di Sabandut”
“PEGA, Persatuan Gawe Adat”
“BAPAKAT, PORSET dan TOGA PUNGUAN SIHOMBING, sebuah organisasi persatuan marga Sihombing yang sudah terbentuk se-Kalimantan Barat sejak tahun 1962”

Sejak pemekaran desa tahun 2007, terjadi pula pemilihan Kepala Desa Sabandut yang baru, menggantikan Kalvianus Malik. Pemilihan diadakan pada bulan Mei 2007. Ada 4 calon yang bertarung; Anto Situhu Halawa, Alexius Laon, Yakobus dan Mahadi Jimat. Dalam pemilihan, Anto Situhu Halawa ditetapkan sebagai Kepala Desa Sabandut terpilih. Terkait kemenangan Anto, Beto Sihombing bercerita.

“saya termasuk tim sukses Anto. Saya menggunakan jalur keluarga”
“SDM dikampung ini sangat rendah, jadi wajar saja kalau Anto terpilih”

Anto Situhu Halawa, sebelumnya adalah seorang motivator agama dan penginjil dari Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) Sabandut. Ia menikah dengan Tanggile’, seorang gadis Dayak dari Kampung Sabandut. Dari perkawinannya, Anto memiliki dua orang anak. Sejak 31 Maret 2008 lalu, Beto Sihombing menjadi pemasok belanja bagi sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit, PT Lestari Alam Raya (PT LAR). PT LAR mengusahakan lahan seluas 14.000 Ha, pimpinan perusahaannya, Sihombing dan Aritonang. David Darol, bekas Kepala Bappeda Bengkayang tercatat sebagai Kepala Hubungan Masyarakat (Humas).
Sebagai aktivis pemberdayaan masyarakat, ketika PT LAR masuk dan beroperasi, Martinus Anam menginisiasi pembentukan sebuah forum warga yang diberinya nama “Tim Independen”.

“tugas anggota tim ini adalah memantau perkembangan situasi, agar perusahaan tidak merugikan masyarakat”
“kami ingin menjadi mediator, bila nantinya ada konflik perusahaan dengan masyarakat”

Organisasi ini dibentuk sejak bulan Mei 2008 lalu, beranggotakan 5 orang tokoh masyarakat, termasuk Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Kecamatan Mandor Capkala. Ketuanya Alexius Laon, bekas calon Kepala Desa Sabandut yang dikalahkan Anto Situhu Halawa.

*****

SUATU sore, dikejauhan seseorang tampak tergesa. Jalannya tertatih-tatih. Ia tidak memakai alat kaki, padahal jalanan beraspal. Kacamata hitam dipakainya. Didadanya melekat tulisan “Satukan Langkah, Lakukan Perubahan”, baju kaos bergambar HM.Akil Mochtar-AR.Mecer, pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Kalbar dalam pilkada 2007 lalu. “Aku Mambah, asal Samantakitn” sahutnya mengenalkan diri. Tangannya menjulur, ia mengajak bersalaman. Terasa tangannya kasar, pertanda pekerja keras. Senyum menghias, giginya kehitaman, beberapa sudah lepas. Ketika kacamata hitam dilepas, sorot matanya tajam. Otot tangannya masih terlihat kekar. Samantakitn adalah sebuah kampong diwilayah Kecamatan Mempawah Hulu, Kabupaten Landak sekarang. Ia biasa dipanggil Tangkulu’, usianya menginjak angka 67 tahun.
Mambah peranakan Cina-Dayak, ayahnya Nya Oku Lie Con, seorang Cina dan ibunya Anyuk, asal Caokng, Binua Gado’. Kedua orang tuanya menikah di Caokng, tetapi kemudian memilih tinggal di Samantakitn. Setelah menikah dengan gadis Sabiris, Mambah pindah ke Mandor. Dari perkawinannya, ia memiliki tujuh orang anak, tiga laki-laki dan empat perempuan. Ia kakek dari lima orang cucu.

“sejak muda, saya pandai membuat kun soi (peti mati Cina)”
“saya belajar membuat kun soi dari bapak”

Sejak tinggal di Mandor, ia memutuskan untuk beralih profesi. Perubahan social di Mandor memaksanya untuk berhenti jadi tukang kun soi.

“sudah tidak ada lagi orang yang pesan kun soi, disini kebanyakan Orang Dayak”

Selama hampir dua puluh tahun, Mambah menjadi panyagahatn (profesi untuk memimpin upacara/ritual adat). Dalam ritual adat Dayak, panyangahatn berfungsi untuk nyangahatn, doa litani yang berisi permohonan kepada pencipta alam semesta, untuk tujuan tertentu. Selain menjadi panyangahatn, Mambah sekaligus berprofesi sebagai Nyandon (pembaca syair kematian). Profesi ini, hanya ia sendiri yang mampu. Tidak banyak orang yang mampu berprofesi ganda seperti Mambah.

“banyak syarat yang harus terpenuhi, salah satunya sudah menikah adat secara lengkap”
“juga berdasarkan keturunan”
“atau bisa juga karena yang bersangkutan diangkat secara adat oleh warga”

Tahun 2004 lalu, ia juga memutuskan untuk berhenti sebagai panyangahatn, ia kemudian digantikan Akun Bayang. Kini, Mambah hanya berprofesi sebagai Nyandon, sebuah profesi yang sudah sangat langka di Kecamatan Mandor Capkala. Setiap kali dipanggil Nyandon, Mambah diberi jasa anam mata nyandon (uang Rp.66.000), sote’ lagor (sebuah piring), sote’ iso’ (sebuah parang), sote’ tapayatn (satu buah tempayan) dan sote’ raakng babotn (sebuah rahang babi).

“sekarang jadi Nyandon tidak ada guna lagi”
“keluarga yang anggotanya meninggal lebih memilih doa secara agama”

Agama modern yang umumnya dianut warga sekarang menyebabkan mereka menghindari dan bahkan cendrung menghilangkan tradisi yang bernuansa “mistis” ini, karena dianggap telah bertentangan dengan nilai-nilai iman mereka yang baru. Dibalik kaca mata hitamnya, beberapa butiran bening menetes. Kulit mukanya berkerut. Tangan kirinya memegangi kepala. Ia sedih, mungkin juga cemas.

“dia (Mambah) ingin minum (arak), makanya seperti itu” ujar Kacos.
“wah, kalau gitu, tolong dikasi (arak) secangkir”
“jangaaan,….dia kalau dikasi, akan lama disini”
“Dia kalau minum pasti sampai mabuk”

Kacos adalah ibu pemilik warung disimpang Sabandut. Menurutnya, setiap hari Mambah pasti datang di toko untuk membeli arak dan meminumnya hingga mabuk.

“kadang-kadang, ia dijemput anak atau cucunya untuk pulang”
“bahkan pernah tertidur dijalan raya, ia mabuk berat”

Mambah adalah potret kehidupan Orang Dayak masa kini. Barangkali, ia merupakan satu dari ratusan ribu penjaga tradisi local Dayak yang “hilang” keseimbangan diri karena perubahan zaman. Ia mungkin merasa telah asing dinegerinya sendiri, sebuah negeri yang katanya beradab, namun penghormatan terhadap sejarah dan kearifan leluhur memudar, bahkan meniadakannya. Dibenaknya, mungkin saja masih ada setitik harapan untuk berubah, memanusiakan manusia-manusia Dayak, yang terlena dengan kekuasaan dan kedudukan.

************



Baca Selengkapnya..

CURAHAN HATI SEORANG DAYAK

Diposkan oleh Yohanes Supriyadi 0 komentar
Sejak jam 7 pagi tadi, saya kedatangan 2 tamu dari kampung pedalaman. Mereka sengaja datang untuk berkeluh kesah tentang perkembangan dikawasan yang dihuni orang Dayak sana. Mereka risau, bahwa perhatian pemerintah tak muncul. Kebijaksanaan tak ada, seakan-akan, mereka kehilangan makna hidup dialam kemerdekaan. Sejenak saya tersentak, saya sedih. Sepulang mereka jam 1 tadi, seharian saya risau. Saya bingung harus mengungkapkan kepada siapa hal ini. Syukurlah, blog ini menjadi teman setia, saya ingin berbagi dengan saudara-saudaraku dimanapun anda berada. Dari penelusuran cerita, paling tidak ada 2 hal yang rumit dan sulit terpecahkan penyelesaiannya, yang terungkap dari bibir mereka ini. Pertama; politik. Di kalbar, politik masih bercirikan primordialisme. Masing-masing kelompok etnik menonjolkan ke-etnisannya untuk meraup dukungan politik. Tidak ada ruang bagi isu lain, selain isu keterwakilan kelompok etnik. Para elit dari masing-masing kelompok etnik menurut saya sebagai “penggagas” isu ini, sebagai strategi pemenangan mereka. Mereka seakan lupa, bahwa dengan tingkat pendidikan yang rendah, interaksi yang sulit terjadi karena letak geografis yang saling berjauhan antara kelompok etnis, dan sejarah konflik kekerasan bernuansa etnik seringkali terjadi diwilayah ini, bisa menjadi bom waktu untuk terjadinya konflik kekerasan etnik dikemudian hari.
Mainstream pluralisme sulit dilakukan oleh para elite, mereka seakan justru menjadikan bahwa pluralisme akan mempertajam kecendrungan konflik. Ciri homogenitas seakan diciptakan, mirip politik unifikasi orde baru. Otonomi daerah, dan pemekaran daerah terbukti persis memperkuat homogenitas etnis di kalbar. Ada semacam teritori etnik dimasing-masing daerah hasil pemekaran. Perbedaan agama, juga dipertajam. Hal ini menambah daftar panjang isu politik, apalagi menjelang Pemilu. Umum kita ketahui, dari 38 partai politik peserta pemilu, sebagian masih “bermodal” ciri agama sebagai penguat identitas untuk meraup suara. Ada PKS, PPP, PBR, PKNU, PKB, PAN, PMB, dll yang bernuansa Islam dan ada PDS, PKDI, dll yang bernuansa Kristen. Beberapa partai lainnya bersifat nasionalis-religius, tetapi dalam praktek politiknya justru bersifat agamais. Ini tentunya tak lepas dari “kadar” para elitnya. Pangsa pasar pemilih terfragmentasi berdasarkan agama yang dianutnya. Secara sederhana begini, Orang Islam tak mungkin memilih caleg dari partai Kristen, dan sebaliknya orang Kristen tak akan mungkin memilih caleg dari partai Islam. Pada partai “nasionalis”, caleg kristen tak mungkin dipilih oleh orang Islam, demikian juga caleg Islam tak mungkin dipilih oleh orang Kristen. Ada semacam “pemilahan” alami oleh rakyat yang menganut agama, dan ini sudah berlangsung 7 kali pemilu !!!
Kedua, yang merisaukan saya adalah ekspansi perkebunan dan pertambangan atas nama pembangunan daerah, lebih-lebih katanya diprioritaskan di kawasan pedalaman dan perbatasan negara. Di dua kawasan dimaksud, penduduknya tak lain orang Dayak, sebuah kelompok etnik yang selama ini dianggap terbelakang. Saya takut, kejutan budaya “culture shok” akan terjadi pada kelompok etnik ini. Keadaan yang dulu tenang, aman dan nyaman, akan berubah menjadi hingar bingar oleh arus orang dan barang. Orang-orang dari berbagai penjuru bumi akan datang, dan menawarkan mimpi-mimpi indah, nikmatnya modernisasi. Pada saat isu pluralisme menjadi belum tersentuh dikawasan itu, bisa jadi mimpi indah akan berubah menjadi mimpi buruk. Banyak kasus kekerasan antar etnik terjadi karena culture shoc ini, masa lalu. Orang Dayak terkejut, dikampungnya tiba-tiba banyak sekali orang luar yang berbeda suku, agama dan kebudayaan. Penghargaan atas keberagaman melunak, berganti menjadi egosentrisme etnik, karena merasa sudah kuat – besar—banyak. Nah, karena umumnya, orang luar ini menetap dikawasan “tepi jalan”, yang mudah untuk akses luar dengan ketersediaan transportasi, teknologi dan ekonomi, orang yang tinggal dikawasan hutan dan hulu sungai merasa aksesnya untuk dunia luar tertutup. Teritori yang dulunya menjadi teritori bebas ternyata sudah menjadi teritori orang luar, yang kemudian memunculkan rasa tertekan, takut yang teramat sangat. Hasil akhirnya, upaya “memindahkan” penduduk secara paksa dilakukan,dengan pertumpahan darah. Itulah yang terjadi tahun 1965, 1996, 1997, 1999 lalu. Sudah menjadi rahasia umum di Kalbar, perusahaan (baik perkebunan maupun pertambangan) yang masuk membawa tenaga kerja dari luar daerah, luar pulau. Pemuda-pemuda setempat tidak terakomodir karena kurang pendidikan, keahlian, ketrampilan, pengalaman, termasuk kurang koneksi. Karena terdesak, bukan tidak mungkin, para pemuda ini akan merasa kembali terancam masa depannya. “percuma sekolah, toh mendapat pekerjaan sulit”. Dan kalau rasa frustasi ini terabaikan, “pengusiran” akan terjadi lagi, sekedar untuk menjelaskan pada pihak luar bahwa mereka juga butuh pekerjaan, butuh pengakuan hak, butuh infrastruktur, dan sebagainya. Ini menurut saya juga bom waktu di Kalbar dikemudian hari.
Mencari jalan terbaik
Tidak ada jalan lain, selain jalan kebijaksanaan bagi para pemimpin bangsa ini. Bahwa, diperlukan sungguh-sungguh untuk menjelaskan dan memerluas pemahaman akan pluralisme. Jelaskanlah kepada para elit politik, jual-lah program, bukan etnik dan agama. Jual-lah integritas moral, bukan hasutan. Jelaskanlah kepada rakyat Kalbar bahwa dunia telah berubah, ikatan etnik, agama dan daerah bukan lagi sebagai komiditi unggulan untuk menang di politik. Ikatan-ikatan itu hanyalah warna kehidupan yang tidak bisa dihilangkan. Jelaskanlah bahwa masuknya investasi dipedalaman dan perbatasan akan merangkul berbagai kelompok, untuk kesejahteraan bersama. Jelaskan bahwa bertambahnya kelompok etnik, agama, asal daerah, dll akan menambah karakter “kompetisi” yang sehat diantara berbagai kelompok itu, dan bukan sebagai ancaman. Dengan kompetisi kehidupan, orang akan kreatif dan memunculkan inisiatif untuk meningkatkan taraf kehidupan melalui karya yang profesional—mandiri – berdaya saing tinggi. Dan pasar masa depan hanya akan dikuasai orang berpendidikan tinggi, profesional, kreatif dan memiliki akses luas. Jelaskanlah itu pada masayarakat Dayak dipedalaman sana, doronglah mereka untuk maju dan bersekolah. Munculkan jalan kebijaksanaan untuk membangun kelompok etnik yang “merasa” tertinggal dipedalaman dan perbatasan negara sana, jangan biarkan mereka, atau akan muncul lagi gerakan borneo raya, yang ingin melepaskan diri dari NKRI.



Baca Selengkapnya..

Toss Bersama Preman

Diposkan oleh Yohanes Supriyadi 0 komentar
Suatu hari saya naik metromini menuju ke Mega Mall. Di tol landak, mobil kami dibajak oleh sejumlah preman, mereka berusaha untuk mengambil barang-barang berharga para penumpang.

Karena ketakutan saya berusaha untuk menyembunyikan handphone dan dompet ke bawah mobil tapi ketika saya coba tengok ke belakang, salah seorang preman itu tersenyum pada saya, maka terjadilah percakapan antara saya dengannya.

Preman : "Tenang Pak, Bapak ga akan kita jambret deh."
Saya : "Benar yah Mas, saya ga akan dijambret."
Preman : "Ya pokoknya Bapak tenang aja deh."

Karena merasa kurang yakin, saya coba melihat preman yang di depan yang sedang mengancam penumpang lain dengan pisau. Tubuhnya yang penuh tato membuat saya takut. Saya merasa walau preman di belakang bilang tidak tapi kalo ia mengancam saya pasti saya kena.

Seakan mengerti kondisi saya, satu hal yang menakjubkan, preman yang seram ini menghampiri saya dan berkata, "Tenang Pak, Bapak ga akan saya copet, Bapak ngga percaya sama saya? Kalo gitu kita toss dulu deh. Lalu saya pun toss dengan preman tersebut.

Sambil tersenyum saya berkata, "Terima kasih ya Mas, karena saya ga dicopet." Entah apa benar ucapan saya itu. Ketika turun hanya satu yang saya lakukan yaitu terbahak-bahak....


Baca Selengkapnya..

PEMILU 2009, KEMANA SUARA KAUM DAYAK ?

Diposkan oleh Yohanes Supriyadi 0 komentar
PEMILU 2009 di Kalbar diikuti oleh 36 partai politik, memperebutkan 2,4 juta pemilih dari 4,3 juta penduduk. ada 11.000-an calon legislatif dari berbagai tingkatan; DPR RI, DPRD PROPINSI DAN DPRD KABUPATEN/KOTA dan 26 orang calon DPD RI. di DPR RI, calon orang Dayak hampir 20 orang; dengan sebaran sebagai berikut:
1. PDIP : 4 orang dari 11 calon, yakni dr. Karolin (Putri Gubernur Kalbar), Lazarus S.Sos (Wakil Ketua DPD PDIP Kalbar), Drs. Agustinus Clarus, M.Si (DPR RI 2004-2009) dan Drs Stepanus Djuweng (Aktivis LSM Pancur Kasih)
2. GOLKAR; 1 orang, Yohanes Nenes, SH (Advokat)
3. PDS: 1 orang, Pdp Harri S Simin, STh. MH
4. PNBK: 1 orang, Drs. AR.Mecer (LSM Pancur Kasih)
dan diberbagai parpol kecil, dengan kisaran 1-2 orang/parpol

pesaing-pesaing "besar" politisi Dayak ini adalah PPP (H. Usman Djafar, mantan Gubernur Kalbar 2002-2008), H. Oesman Sapta (Mantan Calon Gubernur Kalbar, Ketua Umum PPD), H. Henri Usman (Ketua DPD Partai Demokrat Kalbar, mantan Sekda Propinsi Kalbar), dll. Di DPD RI, ada 18 orang Dayak yang mencalonkan diri; dari kalangan LSM (Erma S Ranik, SH (Perkumpulan Pena), Drs. Niko Andas Putra (LSM Pancur Kasih), dan lain-lain. bila dalam Pemilu 2004, orang Dayak hanya terwakili 1 orang; PDIP 1 orang dan Golkar 1 orang (dilantik sebagai PAW menggantikan Akil Mochtar, pada Januari 2009) dan 2 orang di DPD (DR. Piet Herman Abik, dan Maria Goreti). menariknya, Pemilu 2009 di Kalbar, mayoritas kontestannya yang terkenal dan berpotensi menang berasal dari Kalangan LSM, terutama LSM Pancur Kasih, selain dari mantan birokrat dan politisi.

Oligarki politik Dayak di Kalbar juga terjadi, anak pejabat, saudara kandung (PDIP), bapak-anak, suami-istri (PNBK), dll. di PNBK misalnya, AR Mecer (caleg DPR RI) dan FX Trides (Caleg Propinsi) adalah ayah dan anak sulung, Drs. Marselinus Maran (caleg propinsi dapil Landak) dan Elisabet, BA (caleg propinsi dapil kota pontianak), adalah suami-istri. diatas hanyalah contoh yang muncul dipermukaan, banyak lagi diparpol lain, diberbagai daerah di Kalbar. Oligarki politik tampaknya melanda DAYAK, semua berebut di pusat kekuasaan.




Baca Selengkapnya..

INKLUSIF DAYAK

Diposkan oleh Yohanes Supriyadi 1 komentar
Hampir 5 jam, saya memberi ceramah kepada para pendeta, penginjil, tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat dari belasan kampung asal Kabupaten Bengkayang dan Kota Singkawang. Mereka 40-an orang. Mereka mayoritas orang Dayak, tetapi beberapa diantaranya non Dayak. Oleh panitia, saya diberi tugas untuk menjelaskan filosofi hidup Orang Dayak dalam kerangka membangun sikap inklusif ditengah-tengah perkembangan zaman sekarang ini.
Awalnya, memang saya agak ragu untuk menjelaskan topik ini, maklumlah, para peserta umumnya para “ahli” teologi Kristen. Syukurlah, bersama saya, hadir juga seorang ahli Dayak Selako, dari Kota Singkawang, Simon Takdir, MA. Berdua Simon, saya mulai sesi dengan mengajak peserta nonton film dokumenter “Dayak Tempoe Doeloe” yang berhasil dibuat oleh seorang misionaris ditahun 1940-an. 45 menit waktu tersedia untuk menonton film yang luar biasa ini, sebuah film yang mengisahkan budaya, filosofi, kehidupan sehari-hari orang Dayak dimasa itu, masa dimana belum ada
ekspansi perkebunan, eksploitasi hutan, pengkaplingan tanah, perusakan sungai, transmigrasi dari pulau lain dan perdagangan antar negara. Mereka hidup dalam kedamaian, kerja keras, solidaritas sosial yang tinggi, tinggal dirumah panjang, bebas dan aman menyelenggarakan ritual tradisionalnya sebuah masa yang menurut saya penuh solidaritas, damai dan mandiri.
Dari kejauhan, saya melihat decak kagum pada wajah-wajah peserta. Serius, terkadang tergelak. Mereka kagum dengan keindahan masa lalu. Kagum akan keagungan leluhur, kagum akan solidaritas sosial, kagum akan betapa mulianya hati mereka memandang dirinya, orang lain, sang pencipta dan alam semesta. Semuanya seakan telah membentuk sebuah sistem sosio-magis yang mampu menopang masa depan Kalimantan. Tetapi itu 60 tahun lalu, he....
Pada sesi kedua, saya mengajak peserta untuk mengeksplorasi Orang Dayak dimasa kini. Sebuah bangsa di Kalimantan yang mengalami berbagai pengaruh global; dari pengaruh India, Islam, Kristen, Cina hingga Jawa. Peristiwanya terjadi sejak abad ke-1. Warisan-warisan dari berbagai pengaruh ini masih tampak; agama, ritual, situs-situs, bahasa hingga perilaku sosial. Dari abad pertama masehi, pengaruh Hindu demikian kuat dikalangan Dayak. Mereka mengenal kasta-kasta, terutama diperhuluan kapuas. Sifat egaliter pada Orang Dayak menjadi berkurang karena pengaruh ini. Kerajaan-kerajaan Hindu berdiri, dan memantapkan kekuasaan dikalangan Dayak yang masih tersisa kini; temenggung, patih, mangku, jubata/dewata, sesajian dalam ritual adat, dll. Banyak Orang Dayak menjadi Hinduis.
Beberapa ratus tahun kemudian, pengaruh Islam masuk. Kerajaan Hindu berhasil terkonversi menjadi Kerajaan Islam, ini terutama dikawasan pesisir; Sukadana, Matan, Simpang, Kubu, Pontianak, Landak, Mempawah, Sambas. Perkawinan silang menjadi pola dalam konversi ini, termasuk melalui jasa perdagangan. Orang Dayak juga mulai masuk islam, sebagian besar menyingkir kepedalaman. Kesultanan Islam mengundang Cina dari Brunei untuk menambang emas, di Mandor (Kesultanan Mempawah) dan Monterado (Kesultanan Sambas), dari sepuluh orang menjadi ratusan orang, bahkan dalam kurun waktu 30 tahun, menjadi ratusan ribu orang. Populasi yang besar, menjaga hubungan keluarga/klan, keamanan dan sumber emas yang melimpah memotivasi Cina untuk bersekutu; mereka membentuk Kongsi. Ada 2 kongsi besar dan kuat, Mandor dan Monterado. Sistem pemerintahan Kongsi ini mirip “pemerintahan republik”, sehingga banyak penulis barat mengatakan seakan-akan ada republik di Borneo, kekuasaan kongsi ini cukup lama, ratusan tahun. Kekuasaan Kongsi Cina yang lama juga berimbas pada tatanan hidup orang Dayak. Terjadi inkulturasi adat, kebiasaan-kebiasaan baru. Salah satunya yang paling berpengaruh dan terasa hingga hari ini adalah; pesta-pesta, arak, judi. Bahkan dalam seorang Cina ditokohkan Dayak sebagai salah seorang dewa; Nek Bancina Tanyukng Bunga (Nek Bancina dari Tanjung Bunga, kawasan Pasir Panjang Kota Singkawang sekarang).
Perkawinan silang juga terjadi antara Cina dan Dayak, banyak orang Dayak yang menjadi Cina dan sebaliknya, tergantung ia tinggal dikomunitas siapa. Kuatnya Kongsi menjadi ancaman baru bagi Kesultanan Islam, terutama di Sambas dan Mempawah. Peperangan demi peperangan terjadi, hasil akhirnya, Kesultanan mengundang Kolonial Belanda untuk datang membantu dengan beragam perjanjian. Beberapa Kesultanan terjebak dan akhirnya menundukan diri pada Kolonial. Awal abad 19, dua Kongsi (Mandor dan Monterado) berhasil ditaklukan Belanda dan dibubarkan secara resmi. Pembubaran Kongsi menghancurkan kekuatan Cina, sebagian lari kepedalaman dan bergabung dengan Dayak dan sebagian lari ke Singapura.
Untuk kepentingan administrasi kependudukan, pemerintah Kolonial melakukan sensus penduduk. Hasilnya, penduduk non muslim dikategorikan sebagai suku Dayak dan penduduk muslim disebutnya sebagai suku Melayu. Sebuah rekayasa politik identitas dimulai, dan berhasil hingga hari ini. Melayu banyak yang menjadi pegawai pemerintah kolonial, Dayak tetap sebagai pembayar pajak berganda (balasteng). Dari segi pendidikan, Melayu lebih diutamakan karena relasi yang amat baik dan mudah. Pada taraf tertentu, demikian juga Cina. Untuk menghindarkan diri dari pajak berganda dan menaikan martabat dan derajat, Orang Dayak memilih menjadi Islam dan kemudian menyebut diri sebagai Melayu. Dikalangan Orang Dayak, mereka yang berkonversi ini disebutnya Senganan, Urakng Laut, dll. Tetapi, pan islamisme makin merebak di tanah air; Perang Aceh, Perang Padri di Minangkabau, dan sebagian besar tanah Jawa. Belanda terdesak oleh gerakan ini.
Di Kalimantan Barat, gerakan ini juga meluas hingga dipedalaman, utamanya dikampung-kampung sepanjang sungai kapuas. Belanda kemudian mengizinkan Misionaris Katolik dan Zending Protestan masuk di Kalbar. Misi awalnya membangun gereja di Sejiram, Kapuas Hulu. Sebuah sekolah juga didirikan. Namun, gerakan pan islamisme semakin meluas di kawasan utara. Pihak misi mendirikan sekolah dan gereja tak jauh dari Singkawang, Nyarumkop. Rumah sakit juga didirikan, di Singkawang, dan Sei Jawi Pontianak. Para zending juga mendirikan sekolah-sekolah dan rumah sakit di Serukam, Bengkayang. Hasilnya, Orang Dayak mulai memeluk Katolik dan Kristen dan bersekolah. Selang 30 tahun pasca pendirian sekolah-sekolah ini, orang Dayak berpendidikan mula sadar. Perjuangan bukan saja melalui pendidikan, tetapi juga ekonomi dan politik. Beberapa koperasi didirikan, sebuah partai politik dideklarasikan. Hasil akhirnya, orang Dayak mulai bisa menjadi pegawai pemerintah, kepala daerah dan legislatif. Inilah periode pertama kebangkitan Dayak, demikian Kristianus Atok mengungkap.
Kini, menurut Pak Teni, tokoh Katolik dari Samalantan, keadaan berubah drastis. Orang Dayak merasa tidak aman dirumah sendiri; takut dengan masa depan. Eksploitasi hutan begitu masif, pengkaplingan tanah untuk kawasan perkebunan, pertambangan, perumahan terjadi disetiap sudut kampung. Pemindahan penduduk dari luar pulau terjadi setiap hari, baik legal maupun ilegal. Hiburan malam terjadi setiap minggu, apalagi menjelang musim pesta padi dan ujian akhir nasional (UAN) yang berpengaruh pada kualitas, perilaku anak-anak dan remaja Dayak. Lain lagi dengan Pak Titus Tumba, asal Mandung Tarusan. Ia menyorot perkawinan campur yang terjadi pada gadis-gadis Dayak dikampung-kampung. Mereka menjadi “pindah suku” karena konversi agama. “saya takut, nanti Orang Dayak akan hilang” ujarnya setengah berbisik. Saya terkejut. Tak jauh dari Pak Titus, seorang pemuda Dayak juga bicara. Beberapa fakta terungkap, beberapa cerita menguap. Salah satunya, Dayak mulai kehilangan situs-situs asli sebagai simbol peradaban masa lalu. Pak Erdi, dari Serukam menjelaskan bahwa banyak tempat keramat Dayak menjadi hilang, rusak dan ditinggalkan masyarakat adat. “ini semua karena doktrin agama dan doktrin modernisasi, semua yang berbau tradisional dianggap tahyul, kuno, primitif dan ketinggalan zaman” katanya. Sorot matanya menyempit, ia sedih.
Bukti-bukti diatas, kiranya dapat menggambarkan inklusifisme Dayak. Sebuah sikap yang mudah “beradaptasi” dengan perkembangan, pengaruh global. Sebuah sikap yang menjadi ancaman dimasa depan,sekaligus peluang dimasa kini. Kalau dikelola baik ia akan menjadi peluang masa depan, namun bila tak dikelola secara baik, ia hanya akan menjadi ancaman bagi eksistensi Dayak.



Baca Selengkapnya..

MANUSIA PENGIKUT CELENG

Diposkan oleh Yohanes Supriyadi 1 komentar
Di negeri kilometer sepuluh sana, pernah ada orang yang melakukan tindakan ‘usil’, yakni mempelajari kembali asal muasal jalan yang menghubungkan Kota Sana dan Kota Sini. Menurut orang yang usil ini, jalan panjang yang membentang itu, ternyata dulunya dibuat dengan mengikuti jalan setapak yang dibuat babi hutan atau dikenal celeng. Semata-mata karena celeng sudah sering melewati jalan tersebut dan tanahnya sudah keras maka pembuatan jalan pun dilakukan hanya mengikuti kehendak sang celeng. Berabad-abad setelah jalan itu dibuat, masih menurut si usil tadi, ada ribuan manusia setiap harinya yang demikian bodohnya mengikuti kehendak sang celeng.
Cerita diatas mengingatkan saya pada peta jalan bangsa ini. Sebuah peta yang dibuat tidak demokratis, tidak partisipatif dan tidak sesuai kebutuhan perubahan dan atau perkembangan manusia. Banyak peta yang dibuat karena mengikuti jalan celeng. Memang, tidak sedikit manusia yang terjebak sindroma celeng.

Seorang teman saya yang terbiasa berangkat ke kantor dari rumah, suatu pagi—padahal tujuannya ketempat lain—ia baru sadar kesalahannya setelah sampai dikantor. Demikian juga bangsa ini. ‘celeng’ pembuka jalan untuk bangsa ini menganggap perlu adanya “wakil rakyat” yang ‘merakyat dan humanis’, Sekarang, begitu dibuat jalan baru, maka terbingung-bingunglah kita.
Belajar dari sini, cara otak manusia ternyata bekerja sangat potensial untuk menyabotase imajinasi dan inovasi. Kebiasaan, kenyamanan, kesuksesan, dan kemudian membuat format dalam otak. Betapa besar pun perubahan yang hadir didepan kepala anda, format terakhir akan tetap ngotot dengan status quo-nya. Coba perkatikan dua rangkaian kalimat berikut. Pertama ia berbunyi: Kalbar is the best. Kedua ia tertulis; Kalbar is the the best. Bagi kebanyakan orang, dan saya pernah mencobanya didepan puluhan orang berbeda, kedua kalimat diatas terbaca sama. Padahal, kalimat kedua memiliki dua kata the. Apa yang terjadi dalam kasus dua kalimat ini ? disamping kita terjebak kebiasaan ala sindroma celeng akibat format otak yang tidak mau berubah, dalam melihatnya kemudian ternyata berlaku kaidah we see what we expect to see.
Saya teringat sebuah iklan rokok di TV yang menyiratkan perlunya perubahan. Tetapi ia hanya sebatas iklan-kan. Di kehidupan nyata, perubahan memang pasti terjadi dan bukan iklan ! Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, dan setiap tahun, perubahan selalu hadir dihadapan kita. Tidak seorangpun manusia yang mampu melawan perubahan, bagi yang melawan, tentu saja ia akan tewas.
Ada saatnya nanti, menurut saya, perubahan akan terjadi mengikuti jalan celeng lagi. Jalan lurus, terkadang berlobang, terkadang dekat jurang. Dan ada saatnya nanti, banyak manusia yang tak mau berubah, dan tak mau di ubah. Kalau dia mengikuti sebuah jalan, jalan itulah yang dipakainya meski menyakitkan. Itulah yang kemudian dikenal sebagai manusia celeng. Ia tidak sadar, bahwa masih ada jalan lain.
Hari ini, terutama menjelang Pemilu, semakin banyak manusia yang selalu mengikuti “gaya” celeng. Berjalan beriringan, teratur dan rapi, melongok kekiri dan kadang kekanan, kepala manggut-manggut, berteriak riuh rendah, dan tanpa kritis melihat bahwa yang terjadi didepan hanyalah jalan yang dibuat celeng. Dan hari ini, saya juga melihat masih banyak manusia yang terjebak dengan jalan “celeng”, maksud hati menyusuri jalan sukses karena mimpi dan harapan seseorang didunia politik, tetapi suatu ketika terjatuh dalam lubang besar, perangkap manusia lain. Ini mirip dagelan pemilu kita tahun ini. Mimpi-mimpi dan mimpi-mimpi. Tetapi, semoga saja tidak ?



Baca Selengkapnya..

BAMBU DAN PEMILU

Diposkan oleh Yohanes Supriyadi 0 komentar
Serumpun bambu begitu berperan dalam kehidupan. Baik binatang maupun manusia, dan bahkan hantu. Kata Gede Prama, kita harus belajar banyak dari bambu. Bambu sebatang mampu membuat kursi, bambu serumpun mampu membuat rumah. Akar bambu juga menyimpan banyak obat yang baik untuk penyembuhan. Daun bambu sangat baik untuk dijadikan abu, juga untuk pupuk. Bambu bisa hidup dalam kondisi tanah apapun. Dalam sejarahnya, bambu berperan sebagai senjata utama bangsa ini ketika melawan penjajahan. Kita mengenal isilah “bambu runcing”, bahkan di komplek UNTAN kita dengan mudah menemukan tugu bambu menjulang ke angkasa.

Bagaimana dengan Pemilu ? Pemilu katanya juga berperan dalam kehidupan, baik untuk binatang, manusia, tumbuhan dan bahkan hantu. Di Indonesia, Pemilu sudah berlangsung sejak 1955. Banyak pelajaran yang kita dapatkan dari Pemilu ke Pemilu. Pemilu juga menyimpan banyak obat, yang baik untuk penyembuhan. Dalam sejarahnya, Pemilu berperan sebagai alat demokrasi, tetapi seringkali Pemilu memperalat demokrasi. Kita juga mengenal istilah Caleg dalam Pemilu. Bahkan dibeberapa poster dan stiker caleg, tertulis “caleg DPR”, artinya kira-kira calon legislatif Dewan Perwakilan Rakyat. Calon legislatif dan DPR. Bukankah legislatif itu DPR ? Diruas jalan 28 Oktober Pontianak terdapat sebuah baliho besar dengan gambar seekor orang utan dan seorang foto caleg dalam sebuah baliho. Seolah-olah orang utan dan manusia sama-sama jadi caleg. Pemilu memang menggiurkan bagi sebagian orang, tetapi juga mencemaskan bagi sebagian orang. Para politisi berebut jadi caleg dengan harapan menjadi legislatif yang mewakili rakyat pemilih. Harapannya tentu saja harapan pribadi dan kelompok kepentingan. Sudah rahasia umum, hasil pemilu tak jauh beda dengan hasil penerimaan CPNS. Siapa yang mampu melakukan “sesuatu” secara besar dan diam-diam, dialah yang terpilih. Bagi saya, dan mungkin sebagian orang, Pemilu begitu mencemaskan. Sebab, banyak caleg yang tak tahu untuk apa dia mencalonkan diri sebagai caleg, dan bahkan tak tahu apa yang harus dibuatnya ketika duduk dikursi legislatif. Sejak Nopember tahun lalu, saya sudah bertemu dan berdiskusi hampir dengan 30 orang caleg dari berbagai parpol diberbagai tingkatan legislatif. Hasilnya; sebagian besar coba-coba karena ada kesempatan untuk caleg, “yah, hitung-hitung untuk nambah pengalaman dan curriculum vitae” ujar seorang caleg yang baru lulus SMU tahun lalu. Sebagian kecil lainnya mengaku karena diajak teman dan dibantu pembiayaan ketika daftar di KPU, parpol dan pembuatan atribut. Caleg type ini biasanya caleg diurutan terbawah, dari nomor 2 dan seterusnya. Hasil berikutnya adalah beberapa juga diantaranya selalu jadi caleg pada setiap Pemilu. “Caleg menjadi pekerjaan”, gumam saya. Tidak heran, jelang Pemilu ada-ada saja ulah caleg ini. Dari isu keterwakilan gender, kelompok etnik dan agama, hingga kampanye gratis di media dengan ulah-ulah yang menggelikan. Ini dilakukan terutama oleh caleg yang masih duduk di kursi legislatif.
Sebagai rakyat, anda dan saya harus jeli. Pilihlah caleg yang benar-benar berkualitas, bukan saja berintelektual, tetapi juga bermoral dan beriman. Caleg type ini biasanya tidak muncul kepermukaan (media massa, sedikit atribut), tetapi kehadirannya terasa, tercium dan berwarna. Mereka adalah caleg-caleg yang mirip dengan kehidupan sebatang bambu, tidak banyak modal pupuk (finansial), tetapi kaya dengan nilai-nilai moral (sederhana, beriman dan bertakwa, jujur), kemanusiaan (memiliki empati sosial), dan intelektual. Caleg-caleg type inilah yang kita perlukan untuk mengawal perubahan di negeri ini. Semoga



Baca Selengkapnya..

FILSAFAT DAYAK

Diposkan oleh Yohanes Supriyadi 1 komentar
Sesungguhnya berbicara tentang Dayak merupakan sesuatu yang misteri, perlu banyak waktu untuk mengenalinya dengan teliti sehingga paham secara benar. Istilah Dayak baru dikenal dunia setelah penemuan Dr. August Kanderland, seorang sosiolog Belanda ditahun 1803. Dalam penemuannya, August menjelaskan bahwa penduduk yang ia temui di pedalaman Borneo mengaku diri sebagai “orang daya”, koloni manusia yang tinggal dikawasan perhuluan dan non muslim. Tulisan-tulisan Dr. August ini memancing rasa ingin tahu banyak ahli dunia, khususnya tentang “The Head Hunter”. Katanya, orang Daya itu masih primitif, kanibal, sebagaimana koloni manusia yang banyak terdapat di hutan Amazon Amerika Latin. Umum dikatakan bahwa orang Dayak berasal dari Yunan, Cina Selatan, bagian hulu sungai Mekong. Namun, saya menyangsikan teori ini ! dalam berbagai analisis, saya lebih percaya bahwa Dayak adalah manusia asli Kalimantan, bukan migran dari dunia lain. Secara ilmiah, kita dapat membaca dari Wijowarsito;1957. Menurutnya jauh sebelum bangsa Austronesia (sebuah bangsa hasil perkawinan silang antar ras mongol dengan ras asli Kalimantan) datang di kepulauan Kalimantan, di kepulauan ini telah hidup dua bangsa besar, bangsa Weddoide dan bangsa Negrito (Wijowarsito, 1957). Pada konteks Kabupaten Bengkayang dan Kota Singkawang, dalam batas tertentu, Dayak yang tersebar diwilayah ini merupakan klan besar dari apa yang dikenal sebagai Klemantan atau Land Dayak. Ada sekitar 4 rumpun Dayak diwilayah ini; Kanayatn, Salako, Bidayuh, dan Punan dengan beragam bahasa dan variannya. Di terminal Singkawang kita dengan mudah menemui orang-orang Dayak yang berdialek bajare, badameo/damea , bakati’, banyadu’ , bajanya, bainyam, dll.

World View dan Praktik Religius Dayak
Orang Dayak adalah orang alam. Mereka hidup ditengah-tengah alam yang maha luas dan ganas. Oleh karena itu, untuk eksistensi diri, mereka selalu melakukan percobaan. Hasil percobaan-percobaan yang dianggap praktek terbaik akan diikuti, untuk warisan anak-cucu. Praktek terbaik inilah yang kini dikenal sebagai ADAT. Adat diyakini sebagai solusi menciptakan keseimbangan kehidupan, antar sesama manusia, antara mereka dengan alam sekitar dan antara mereka dengan sang penguasa alam semesta. Melanggar adat berarti mengancam kehidupan.

Orang Dayak mengenal Allah, zat tertinggi. Allah-lah yang menciptakan dunia dan segala isinya. Untuk mengungkapkan apa yang disebut “Allah” , agar dapat dimengerti dan dipahami secara jelas bukanlah merpakan yang sederhana dan perlu waktu yang cukup banyak, karena tidak dapat dipisahkan dan sangat erat sekali kaitannya dengan adat, mithe-mithe tentang kejadian alam semesta dan manusia dan mithe-mithe lainya yang memperlihatkan keterkaitan-keterkaitan antara manusia dengan makhluk-makhluk lain serta alam lingkungan sekitarnya.

Secara ringkas, Orang Dayak yakin bahwa ada dua ruang lingkup alam kehidupan, yaitu kehidupan alam nyata dan kehidupan alam maya. Yang berada di alam kehidupan nyata ialah makhluk tak hidup, tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Sedangkan yang berada di alam kehidupan maya antara lain: Ibalis, bunyi’an, antu, sumangat urakng mati, dan Jubata (Tuhan Allah). Kedua alam kehidupan ini dpat saling pengaruh-mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Kekuatan supranatural yang dimiliki oleh seseorang adalah salah satu contoh dari akibat tersebut di atas. Untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan alam nyatan dan kehidupan alam maya, serta untuk menata seluruh aspek kehidupan warganya, hubungan timbal-balik sesama warganya, hubungan warganya dengan alam lingkungannya, serta penciptanya/Jubata agar tetap serasi dan harmonis, nenek moyang para leluhur mereka telah menyusun secara arif dan bijaksana ketentuan-ketentuan, aturan-aturan yang harus ditaati dan dijadikan pengangan hidup bagi seluruh warganya dan warga keturunannya dari generasi ke generasi sampai kini, yang terangkum dalam apa yang disebut ADAT.

Orang Dayak yang hidup berpencar-pencar di desa mereka masing-masing secara umum dikategorikan dalam masyarakat horticultural (Kottak : 1974). Sebuah masyarakat yang menanam tanaman pangan guna memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga dalam jangka waktu satu tahun. Bentuk subsistensi yang demikian itu bukan untuk mengkasilkan produk yang surplus (pasar oriented), namun hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga saja. Orang Dayak dalam menjalani rutinitas kehidupannya tidak lepas dari praktek religius tradisionalnya – Religi Neolitikum – yang diwarisi oleh para leluhurnya, terutama dala interaksinya dengan alam lingkungan hidupnya (Hofes: 1983). mereka percaya bahwa dalam usaha mendapatkan rejeki, kesehatan dan keselamatan dalam kehidupan ini tidak hanya bertumpu pada usaha kerja keras saja, tetapi juga pada harapan adanya campur tangan dari “apa” yang mereka yakini. Dengan kata lain, religi tradisionalnya mengajarkan bahwa segala sesuatu yang mereka dapatkan dalam kehidupan mereka – baik dan jahat – selalu ada campur tangan dari unur-unsur lain di luar manusia. Dunselman dalam artikelnya di tahun 1950-an pernah menggunakan istilah agama-agama Dayak untu menyebut praktek religius seperti ini. Istilah religi dalam konteks ini menyangkut pengertian yang menyangkut semua praktek religius yang masih hidup dan dilaksanakan namun sudah tidak sepenuhnya- oleh kelompok masyarakat hortikultur Dayak dalam kehidupannya. Karena religi ini merupakan kebiasaan yang diwariskan oleh para leluhur secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat non- literate ini, selanjutnya disebut Religi Tradisional yang dalam bahasa Dayak disebut adat. Hal ini dapat dilihat dari doa dalam setiap acara ritual yang disampaikan oleh penyangohotn (imam):

“Bukotnnyo unang i-mantabok i-marompokng adat aturan anyian, io inurunan ampet i ne’ Unte’ i kaimantotn, ne’ ancino i Tanyukng Bungo, ne’ Sarukng i sampuro, ne’ Rapek i sampero’, ne’ Sai i sabako’, ne’ ramotn i saa’u, ne’ ranyoh i gantekng siokng. Angkowolah angkenyo kami anak parucu’e make io dah tingor-kamaningor, dah pahiyak dah goehotn kami ihane.” (terjeahan bebas: bukanlah adat dan aturan ini hasil rekayasa semata-mata, namun dia diturunkan oleh mereka (para leluhur) yang bernama Nek Unte’ yang tingggal di kaimantotn, Nek Bancino (leluhur dari etnis cina) di Tanyukng Bungo, Nek Sarukng di bukit sampuro, Nek Rapek di sungai Sapero’, Nek Sai di bukit Sabako’, Nek Ramotn di bukit saba’u Nek Ranyoh di Gantekng Siokng. Karena itu generasinya menggunakannya yang diwarisi dari generasi yang menjadi tuntutan kehidupan kami).

Dalam adat (religi tradisional) ini terkandung segala aturan, norma dan etika yang mengatur korelasi manusia dengan manusia, manusia dengan unsur-unsur yang non-manusia (nature and supranature) dalam sistem kehidupan ini. Religi tradisional ini merupakan suprastruktur dalam sistem sosiokultural masyarakat hortikultural Dayak Selako yang prakteknya selalu disesuaikan dengan lingkungan tempat tinggal mereka (Sanderson : 1981). Penyesuaian ini berimplikasi terhadap perbedaan kecil dalam bentuk-bentuk doa, kurban persembahan (bahasa Dayak Selako: buis bantotn) – misalnya posisi ayam kurban, jenis daun ritual – dan tempat-tempat mitis dari setiap desa. Sesuai dengan namanya, religi tradisional atau adat ini bersifat non proselytizing, artinya tidak mencari penganut di luar komunitas, hanya untuk kalangan sendiri (Spier : 1981). Ajaran tentang adat (etika) lingkungan hidup yang mengatur korelasi antara manusia dengan alam ini didasarkan pada pandangan dunia (world-view) masyarakt holtikultural Dayak Selako itu sendiri yang termuat dalam religi Tradisionalnya dan terpelihara dalam mitos-mitosnya.

World-view (pandangan dunia) Orang Dayak memahami alam semesta (kosmos) ini sebagai suatu bentuk kehidupan bersama antara manusia dan yang non-manusia, diluar alam para Jubato (dewa) dan Awo Pamo (arwah para leluhur) yang berada di Subayotn. Bentuk kehidupan itu merupakan suatu sistem yang unsur-unsurnya terdiri dari unsur alam manusia dan alam non-manusia (organisme dan no-organisme) yang saling berkolerasi. Sistem kehidupan itu sendiri merupakan lingkungan hidup manusia dimana manusia hidup dan berkolerasi secara harmonis dan seimbang dengan para “tetangganya” unsur-unsur lain yang non- manusia. Hubungan yang harmonis dan seimbang dalam sistem khidupan ini harus dibangun oleh manusia melalui praktik-praktik religi mereka.
Manusia sebagai bagian dari alam memiliki unsur-unsur alam, misalnya, udara, air, dan zat lainnya dalam dirinya (Sudarminta : 2006). Manusia merupakan mikrokosmos (bagian dari dalam sistem kehidupan (kosmos) ini (Priyono : 1993). Setiap unsur dalam sistem itu masing-masing memiliki nilai dan fungsinya yang saling mendukung dalam satu kesatuan untuk mencapai suau tujuan,kehidupan yang harmonis dan seimbang. Sikap manusia dalam korelasinya bersama unsur-unsur lain dalam sistem kehidupan itu menentukan kehidupan manusia bersama lingkungannya, baik secara individu maupun komunitas. Sikap manusia yang mau menghargai, menghormati dan bersahabt dengan alam akan memberikan permusuhan dan kesengsaraan bagi manusia memisahkan diri dan beroposisi dengan alam.
Pemahaman masyarakat Dayak Salako terhadap manusia sebagai bagian dari alam didasarkan atas adanya korelasi tersebut. Korelasi ini dipahami sebagai bentuk komunikasi yang dijelaskan oleh mitos-mitos yang berkembang ditengah kehidupan masyarakat ini (van Baal : 1987). Alam berkomunikasi dengan manusia antara lain melalui tanda-tanda yang diberikan. Sebaliknya bentuk komunikasi manusia dengan alam melalui praksis (tindakan nyata dan disadari) dan praktik religiusnya. Beberapa contoh bentuk pemahaman manusia sebagai bagian dari alam yangberkolerasi dalam sistem itu diuraikan disini. Pertama, kematian dipahami sebagai peristiwa kembalinya dan menyatunya jasad manusia dengan alam dunia (taino) serta sengat atau ayu (jiwa) dengan Subayotn. Saat manusia akan meninggalkan dunia, alam mengkomunikasikannya pada mnusia berupa tanda dalam bentuk suara dari sejenis mahluk alam yang disebut Tirantokng. Suara itu menyerupai bunyi sebuah parang besar beradu dengan alas kayu terjadi pada malam hari antara pukul 10.00 hingga 12.00. Tanda ini diartikan bahwa hantu telah memotong-motong badan orang itu hingga meninggal. Orang segera tahu bahwa dalam beberapa hari akan ada yang meninggal dunia di desanya atau desa sekitarnya.
Saat orang itu akan menghembuskan nafasnya yang terakhir (ngooh), pada malam sebelumnya suara riuh rendah dari mahluk malam di rimba terdengar tidak seperti biasanya. Peristiwa ini bisa dialami oleh mereka yang menunggu durian atau berburu pada malam hari (nereng). Orang menafsirkannya bahwa alam bersorak-sorai menyambut kedatangan manusia yang akan menyatu kembali dengannya. Tidak ada kebiasaan membersihkan dan menyembahyangi dalam kehidupanmasyarakat Dayak. Pohon-pohon dan semak dibiarkan tumbuh lebat disekitar kuburan. Masyarakat takut untuk membersihkannya karena arwah manusia yang dikubur itu akan marah dan menyakitinya. Ketika jenasah itu dikubur atau dibakar (dikremasi), selanjutnya orang tidak pernah mengenali dimana letak kuburan manusia yang meninggal itu. Dia dikubur tanpa nisan. Rangkaian peristiwa kematian yang dialami dalam kehidupannya membuat masyarakat Dayak berkesimpulan bahwa manusia itu betul-betul telah kembali danmenyatu dengan alam karena dia sesungguhnya berasal dri alam. Religi tradisionalnya mengatakan manusia yang sudah momo’ (meninggal dunia) itu sesungguhnya telah kembali ke binuo (tempat) asalnya. Sejalan dengan itu, dalam tataran evolusi kehidupan, manusia secara bertahap berkembang dari bentuk-bentuk kehidupan yang lebih rendah (Darwin : 2002). Kedua, manusia dalam melaksanakan aktivitasnya akan terhindar dari marabahaya ketika suara mahluk tertentu (rasi) berbunyi pada situasi yang tidak biasa. Tanda ini dipahami sebagai “alam” (bhs. Dayak Salako: palangkahan) bagi manusia agar memilih waktu (jam, hari) yang tepat dalam melaksanakan kegiatan diluar rumah. Pemahaman ini dijelaskan dalam kasus Kulikng Langit, tokoh dalam mitos manusia mendapatkan pelangkahan dari para rasi akan nek Baruang kulup. kasus lain sebagai contoh yaitu sebuah mitos maniamas yang melanggar suara rasi dari kijokng (kijang) – sebuah rasi keras, rasi orang mati berdarah.
“Ketika maniamas hendak menebang pohon besar diladangnya, tiba-tiba terdengar suara kijang dari semak disekitar rumahnya. Walaupun dia tahu rasi itu, ia tidak perduli dan tetap melanggarnya. Dia keluar dari rumah dan pergi ke ladang. Begitu dia selesai menebang pohon itu, di sebelahnya telah menanti musuhnya, Leo Baja, dari kampung Barangan, Leo Baja langsung melemparkan boekng (tombak)-nya ke arah maniamas, Maniamas Nyingkubokng (melompat) tiga kali melengakannya. Begiru Maniamas berdiri kembali ketanah, Leo Baja langsung menyerangnya dengan tangkitn (sejenis parang khusus untuk menganyau). Maniamaspun langsung menghunus tangkitnnya. Mereka saling memyerang, memotong, menebas. Keduanya sama-sama kuat. Tiba-tiba kaki Maniamas terikat oleh kayu dan terjatuh. Saat itu juga tangkitn Leo Baja menyambar batang lehernya. Darah menyucur dan kepala terlepas. Leo Baja puas. Dia pulang dengan menintng kepala Manianas. Bagaimana cara kamang pulang bakayo, begitu juga adat yang diikutinya. Ini akibat melanggar rasi keras, rasi orang mati berdarah.”

Selanjutnya, kesuburan semua mahluk dalam kosmos ini tidak luput dari campur tangan burung Tingkakok dan burung Bungkikik. Kedua burung Jubato ini dengan suaranya yang khas menimang agar semua mahluk hidup timbuh subur, berbuah, berkembang biak dan berketurunan. Manusia mendapatkan kebaikan dari kedia burung ini. Berkat timangan burung ini manusia dapat berketurunan, segala ternak di rumah, Hewan disungai dan dihutan berkembang biak, dan tanaman padi dan pohon buah-buahan mengeluarkan buah yang lebat. Pada acara ritual kedua burung ini disapa dan di beri sesajian dalam bentuk Patek. Doanya sebagai berikut.

(patek diambil dari dalam cangkir dan ditaruh dalam genggaman sambil berdoa) “Au’ unang nyian patek tampi paribaso si ane’ (sebut nama pemilik kurnan) mirikngi’ kito’am badamo Tingkakok burukng Jawo, Bungkikik, burukng matan. Kito’ an dingaso’an dingarap, ingampioh am batimang. Ame kito’ batimang jawi’, batimang jaji ka manosio, jaji ka piarootn,jaji padi ka umo ka tahutn, jaji ka banir buoh. Kurrra’ patek tampi (pada sat itu patek dilambungkan keatas dengan posisi di atas kurban)” (Terjemahan bebas: inilah sesajian patek, yang pertama datang sebagai adat dari si Anu (sebut nama si pemilik kurban) yang mengirimi kalian bernama Tingkakok burung jawa. Bungkikik burung matan. Kalian yang diharapkan untuk menimang segala mahluk hidup agar tumbuh subur, berbuah, berkembang biak dan berketurunan. Janganlah menimang tidak berhasil. Bertimanglah yang berhasil, manusia beranak pinak, hewan dihutan dan ternak dirumah berkembang biak, tanaman padi dan pohon buah-buahan lainnya berbuah lebat. Terima kasih atas itu bersama patek tampi ini).

Beberapa contoh pernyataan nyata manusia sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap alam terlihat dalam hal-hal yang berikut. Pertama, ketika alam mengalami musibah misalnya, tanoh rantak (tanah longsor), pembangunan berskala besar, perbuatan berjinah dan pembunuhan manusia-manusia membuat upacara ritual besar dan lengkap. Upacara ritual seperti ini disebut ngadati ai’ tanoh, paayo paansar, tumpuk tampat kediaman (mengadati air dan tanah, wilayah kerja untuk mendapatkan rejeki, tempat tinggal) ritual ini merupakan tanda komunikasi dari manusia agar hubungan antara manusia dan alam yang telah rusak itu dipulihkan kembali. Tanah yang longsor, tanah yang rusak, tanah yang kotor karena perbuatan manusia dipahami sebagai alam yang “sakit”. Kondisi alam seperti itu merupakan tanggungjawab manusia sebagai “tetangga alam” untuk memulihkannya. Ini semua dilakukan agar kekotoran dan kerusakan alam tidak berlarit-larut sehingga menyiksa dan menyengsarakan manusia. Sebagai sebuah sistem, ketika salah satu unsur mengalami kerusakan, maka unsur-unsur yang lain secara otomatis tidak dapat berfunfsi dengan baik.
Selanjutnya lahan yang digarap untuk bercocok tanam harus “diobati” karena lahan tersebut dianggapmenderita. Melalui persembahan yang disebut petak (kamoh di dalam cangkir manusia “mengobati alam”, yakni dengan menyampaikan penghargaan, sikap hormat dan bersahabat atas pengorbanan lahan yang telah digunakan mereka untuk mendapatkan rejeki kehidupan sehingga korelasi itu kembali normal, dan kelak kemudian hari manusia dengan mudah mendapatkan rezeki dari setiap lahan yang digarapnya. Dalam upacara ritual itu lahan ladang dan sawah yang meliputi tanah, mahluk hidup yang ada di atasnya, dan semua jenis tumbuh-tumbuhan seperti rumput (rumput ratai), pohon besar dan kecil (kayu kayan), serta rotan dan tumbuhan merambat (ui bararotn) lainnya, yang ditebas, ditebang dan kemudian dibakar-disapa melalui doa dan diberi sesajian oleh manusia agar jangan sampai “mereka” marah berkepanjangan, dan dendam sehingga “mereka” menyiksa dan menyengsarakan manusia yang hidup dari berladang dan bercocok tanam. Petikan doanya adalah sebagai berikut:
(cara memberikan sesajian patek tengah (tangoh) ini sama dengan patek tampi). “Au’ anyian patek tangoh mirikngio’ tanoh, rumput ratai, kayu kayan, ui bararotn an dimangas, dinabokng, dinunu, dimumputn, ame sampe kito’ bero, ngaapat, ngaraju’, antas nyikso nyangsaro manusio am baumo batahutn, bacocok tanam. Au’ kito bujokng Pabaras, Manyang Pabawar, kito’ an dingarap, ingaso’, ingampioh, urokng an jajokng pantas painyuokng, ngantato’ pirikng si Anu (sebut nama yang melaksanakan ritual) mirikngi’ kito’. Ampar bide, tutukng pulito’ pao’ canang babagi baongko’ ka paranak ucu’ kito’. (Lambungkan patek itu di atas kurban sambil berkata: Kurrra’ patek tangoh).”
Adanya korelasi dalam sistem ini masyarakat Dayak Salako memahami bahwa alam selalu siap membantu kehidupan ”teman”-nya manusia disetiap saat. Bahkan alam akan memberikan bantuannya ketika manusia menghadapi kesulitan yang paling berbahaya, misalnya perang suku. Manusia Dayak selalu meminta alam melalui upacara ritualnya memberikan kebaikannya agar membantu dan melindunginya dalam menghadapi lawannya.

Praktik Religius
Praktik religius dalam upacara ritual suku ini merupakan bentuk usaha manusia dalam membangun relasi yang baik dengan unsur-unsur yang non-manusia agar keseimbangan dan keharmonisan dalam sistem kehidupan tetap berlangsung. Usaha itu dapat kita saksikan dalam bentuk doa dan kurban yang tidak hanya ditujukan kepada para Jubato (dewa), awo pama (arwah para leluhur) dan roh-roh lainnya (hantu, setan, iblis), namun juga terhadap segala bentuk organisme (hewan, tumbuhan) dan non-organisme (misalnya besi, karat besi/tagar, petir, dan sebagainya yang dianggap memiliki spirit) dalam kehidupannya.
Seperti agama mototheis – agama kristen katolik Roma – upacara ritual dalam religi tradisional ini (politheis) memiliki dua unsur yang nyata dalam prakteknya, yaitu doa (bhs. Dayak Salako: sampado, sampokng, bamang) dan kurban persembahan (buis bantotn). Doa merupakan bentuk komunikasi nyata dari manusia dengan unsur-unsur lain yang dianggap memiliki kekuatan seperti manusia, bahkan lebih, dalam sistem kehidupan ini. Kurban persembahan – dari hasil karya yang terbaik – merupakan bentuk paribaso (sikap hormat dan bersahabat) dari manusia terhadap unsur-unsur lain dalam sistem kehidupannya. Melalui kurban ini manusia tidak hanya menanamkan budi baiknya, tetapi juga untuk memenangkan unsur-unsur non-manusia yang marah atas perbuatan manusia yang salah sehingga hubungan yang rusak dapat dinarmalkan kembali.
Berkomunikasi (doa) dengan alam yang tidak disertai dengan paribaso dalam religi tradisional masyarakat Dayak Salako adalah sengko’ (timpang), dan ini amai’ (tabu) dilaksanakan. Mengapa alam sebagai sahabat harus ada paribaso, sebagai wujud nyata dari rasa hormat dan tali persahabatan yang dinginkan oleh manusia. Berkomunikasi tanpa adanya hormat dan tali persahabatan yang dinginkan oleh manusia. Berkomunikasi tanpa adanya sesuatu yang melengkapi komunikasi itu (sesuatu yang diberikan) dikatakan berkomunikasi dengan ai’ iur bari’ (air liur basi), artinya hanya omong kosong saja. Bentuk paribaso yang paling sederhana sebagai pelengkap komunikasi itu adalah antek (selembar sirih yang sudah diolesi kapur, irisan pinang dan gambir serta rokok daun dan tembakau). Perilaku ini terbawa dalam interaksi antar manusia Dayak dalam kehidupannya ketika mengunjungi kerabat atau temannya. Seseorang biasanya akan membawa oleh-oleh berupa kueh – walaupun sederhana namun bermakna – untuk anak-anak keluarga yang dikunjunginya dengan tujuan untuk menbina ikatan ekosional yang kuat antara kedua belah pihak.
Melalui upacara ritualnya (doa dan kurba) manusia mengundang semua unsur-unsur non-manusia itu untuk hadir, mendengarkan permohonan manusia, dan menikmati kurban persembahan yang telah disiapkan untuk mereka. ”Mereka” – menurut pemahaman masyarakat Dayak Selako menikmati persembahan kurban itu dari aroma (sau)-nya saja. Sebaliknya, manusia menerima berkat berupa rejeki, kesehatan dan keselamatan dari ”mereka” dengan menikmati kuran persembahan itu. Manusia meakan ”sisa” makanan yang mengandung berkat ”mereka”. Manusia mendahulukan ”mereka” menikmati kurban persembahan yang masih utuh dan sebalikny manusia memakan ”sisa” dari ”mereka” dalam upacara ritual itu menandakan bahwa manusia bersikap hormat dan bersahabat dengan alam. Hal itu dapat dilihat dari petikan doa penutup ritual (ngangkat buis) yang diucapkan oleh panyangohotn (imam):
”Au’ nyian unang buke’nyo barapat, baraju’. Maabotn dan rinso, sampo’ dah masak, kito’pun dah ako makotn sau’e, makotn kukuse, makotn baue. Nyian unang si Ane’ (sebut nama keluarga pemilik kurban persembahan) dah makatnno’ siso’, makatnno’ labih, katepokng sampo’, kaimpapu kito’. Kade’nyo se makotn, jaji daging, jaji amak, jaji manse , jaji sajuk, jaji dingin, jaji sedo,jaji sanang, jaji baruntukng batuoh barajaki ka manusio, ka piarootn, ka padi baras ka lawokng karamigi, ka umo k pathunan. Io ngangkat buis bntatn ne nyian ampo ngangkat sumangat padi, sumangat uang, sumangat taro, sumangat amas perak. Angkat ka pucuk, angkat ka atas, angkat untuknge angkat tuhe.So, duo, tau, ampat, imo, anam, tujuh, Kurrra’ sumangat buis bantotn lowokng karamigi si Ane’ (sebut nama sipemilik kurban, dan upacara ritual selesai).” (terjemahan bebas: Ini bukanlah kami marah ataupun merajuk. Segala-galanya sudah sempurna dan kalian sudah selesai bersantap. Kini saatnya bagi si Anu (sebut nama pemilik kurban) akan menerima berkat kalian dari sisa-sisa santapan kalian. Semoga sisa santapan ini menjadi berkat rejeki, kesehatan dan kesehatan bagi keluarga yang menyamtapnya).

Dalam ritual ini secara kohesi manusia alam diikat dan dipererat. Kohesi itu selalu diperbaharui dan dipertegas dalam setiap upacara ritual – misalnya, dalam, upacara ritual padi Nurutni’ dan Ngabayotn.


Peranan Religi dalam Pelestarian Lingkungan Hidup
Adat merupakan produk budaya manusia yang berasal dari akumulasi pengalaman dari adaptive strategy manusia itu sendiri terhadap lingkungan hidupnya agar supaya tetap survive (bertahan hidup) dan diwariskan secara turun-temurun pada generasinya sehingga menjadi pedoman hidup mereka (human being), alam (nature) dan roh (supernature) dalam suatu bentuk sistem kehidupan ditengah masyarakat horticultural dan egaliter Dayak Salako.
Adat mempengaruhi dan membentuk sikap serta perilaku masyarakat Dayak itu sendiri dalam berinteraksi dengan sasama manusianya, dengan alam yang supernatural. Sikap dan perilaku masyarakat Dayak yang kehidupannya dipengaruhi dan dibentuk oleh adat itu berimplikasi pada pandangan mereka terhadap alam. Mereka memandang manusia sebagai bagian dari alam dimana mitos-mitos meeka berperan dalam memperjelas pandangan itu. Pandangan itu selanjutnya membuat masyarakat Dayak Selako itu bersikap menghargai, menghormati, dan bersahabat dengan alam. Dengan sikap dan perilaku masyarakat yang demikian konsep etika lingkungan hidup telah dibangun sehingga kehidupan berkelanjutan (sustainable life) terealisasi. Dengan kata lain, adat memainkan peranannya dalam usaha mencegah kemerosotan kualitas lingkungan hidup.
Adat sebagai aturan yang berfungsi mengontrol sikap dan perilaku manusia dalam sistim kehidupannya memiliki kekuatan memaksa (coersive power) baik secara spritual maupun sosial. Ketika manusia melakukan suatu perbuatan yang baik terhadap sesamanya – manusia dan alam dalam lingkungan hidupnya, manusia itu akan mendapatkan sanksi spritual dan sanksi sosial. Perbuatan manusia yang salah itu telah merusak hubungan yang harmonis dan seimbang dalam sistem kehidupan masyarakat itu. Sanksi spiritual adalah sanksi yang (akan) didapatkan oleh manusia baik dari ala sendiri maupun supernatural karena perbuatannya. Jika kehidupan manusia itu baik-hidup yang beradat – manusia akan mendapatkan rejeki yang mudah dan berlimpah serta kesehatan dan keselamatan di sepanjang hidupnya. Sebaliknya, manusia akan mendapatkan tuoh (tulah) dan papo (papa, sengsara)karena perbuatannya yang tidak baik hidup yang tidak beradat. Ini biasanya disebut dengan hukum karma. Masyarakat percaya bahwa manusia yang hidupnya tulah dan papa sulit untuk mendapatkan rejeki kehidupan walaupun sudah bekerja keras. Pengalaman kehidupan masyarakat itu menunjukan bahwa walaupun seseorang dalam kehidupannya mendapat rejeki yang melimpah, namun salah satu anggota keluarga tidak mendapat kesehatan – sakit yang saling silih berganti mengakibatkan rejeki yang diperoleh itu akan habis juga.
Sanksi sosial mengacu pada sanksi yang diatur oleh adat dan dikenakan oleh kelompok masyarakat yang memiliki adat tersebut – melaluipengurus adatnya – kepada anggota masyarakat yang perbuatannya melanggar adat. Sanksi sosial itu berupa pembebnan beaya untuk menyiapkan materialkurban persembahan dan beaya-beaya lain (kalau ada) kepada yang bersalah. Ukuran sanksi sosial yang dikenakan pada manusa yang bersalah itu disesuaitka dengan jenis kasus yang diperbuatnya. Selain itu, manusia yang bersalah itu mendapatkan cap kehidupan ”si pelanggar adat” di sepanjang kehidupan generasinya dalam komunitasnya. Dia menjadi buah bibir dan contoh perbuatan yang salah bagi generasi lain dalam komunitasnya.
Kelompok masyarakat menjatuhkan sanksi adat pada anggotanya yang bersalah baik terhadap manusia maupun alam bertujuan untuk memulihkan kehidupan yang telah rusak karena perbuatannya agar menjadi normal kembali, dan merehabilitasi manusia yang bersalah itu agar hidup beradat lagi. Pelaksanaan sanksi adat itu selalu disertai dengan upacara ritual. Upacara ritual itu selain merupakan ujud nyata dari bentuk pelaksanan adat itu sendiri (sanksi sosial), juga merupakan wujud nyata untuk menghapus sanksi spiritual. Pelaksanaan sanksi adat – sanksi spritual dan saksi sosial – akan syah di depan masyarakat (manusia), alam dan supernatural ketika upacara ritual selesai dilaksanakan. Dengan demikian, melalui upacara ritualnya manusia memberikan sikap hormat dan bersahabat terhadap alam agar apa yang dilakukannya di waktu mendatang sawokng (tanpa halangan) dan manusia itu sendiri – baik individu maupun komunitas – sunio (selamat). Tanpa pelaksanaan upacara ritual komunitas akan terus merasa khawartir akan sanksi spritual itu. Mereka percaya bahwa sanksi pritual itu akan berjangkit pada kehidupan mereka. Sanksi sritual atas suatu kesalahan yang belum “ditebus” secara adat akan ba bangkawo’-ba bangkawar dan ba badi ba idab. Keadaan ini akan berdampak pada kehidupan komunitas dalam hal rejeki, kesehatan, keselamatan. Apa pun yang mereka lakukan demi kehidupan mereka tidak akan sawokng (tanpa halangan) dan tidak akan Sunio (selamat).
Adanya pandangan kosmologi dan adat yang dimiliki oleh masyarakat. Dayak Salako dalam kehidupan membuat masyarakat ini tidak dapat mengeksploitasi alam dengan semau-maunya demi kepentingan ekonominya. Adat (etika) mengajarkan bahwa amai’ (tabu). kalau manusia bersikap bongko’ karongo, oso dan piroro terhadap alam. karena itu manusia harus menyadari bahwa dia merupakan bagian dari alam dan dapat survive (bertahan hidup) karena dia mendapat dukungan kehidupan dari alam itu sendiri. Alam lingkungan hidup Dayak Salako sesungguhnya telah dilindungi dan dilestarikan oleh etika lingkungan hidup yang mereka miliki yang terdapat dalam pandangan kosmologi dan adatnya. Adat religi, norma, etika mereka itu memiliki peranan yang signifikan dalam melestarikan lingkungan hidup mereka. Hal ini sudah teruji dalam ruang dan waktu dan dipraktekkan disepanjang sejarah kehidupan masyarakat ini yang hidup dari berladang (shifting cultivation) dan merambvah hasil alam. Etika lingkungan hidup yang termuat dari adat yang selanjutnya dipertegas oleh bentuk pandangan kosmologi dan mitos-mitos masyarakat ini telah menciptakan suatu bentuk kehidupan berkelanjutan (sustainable life) yang membuat hubungan manusia dan bumi harmonis dan seimbang. Alhasil, alam lingkungan hidup ini (dulunya) tetap terpelihara dan lestari.

Ada 5 pokok-pokok adat terpenting: (1) Penekng Unyit Mata Baras. Asalnya dari Nek Unte’ Pamuka’ Kalimantatn, Nek Bancina dari Tanyukng Bunga (Kawasan Pasir Panjang), Sali dari Sabakal, Onton dari Babao, Sarukng dari Sampuro. (2) Baras Banyu Banyang. Asalnya dari Nek Pangingu dan Nek Pangorok. (3) Baras Ijo. Asalnya dari Bujakng Nyangko dari bukit Samabue dan Kamang Muda’ (Bungsu) dari Santulangan serta Ngantapm Barangan Raja Jajawe di Capkala. (4) Baras Sasah. Asalnya dari Gira’ Giro Sisi Langit, Beta’ Beto Tampus Tanah dan Raja Naga Pusat Ai’.(5) Langir Binyak. Asalnya dari Bunga Putih Oncok Bawakng, Nek Nyala’ Raja Pajaji, Nek Lopo Panungkakng Bawakng, Sudu’ Nu’ Alang Ngalulu’ Balah, Dayakng Nu’ Dandang Bagago’ Jiba Sumangat, Bayu Rinsamang harta muda dunia.

Dalam mitologinya, orang Dayak mengenal 4 tingkatan dewa-dewa sebagai kekuatan alam yang tinggi. Mereka adalah: (1) Nek Panitah. Nek Panitah adalah dewa tertinggi. Ia hidup bersama istrinya yang bernama Nek Duniang. Anak Nek Panitah dengan Ne’ Duniang bernama Baruakng Kulub. Panitah = perintah. (2) Jubata. Jubata adalah roh-roh yang baik. Jumlah mereka banyak. Tiap sungai, gunung, hutan, bukit mempunyai jubata. Yang terpenting adalah jubata dari bukit bawakng. Apa’ Manto Ari adalah raja dari bukit bawakng. (3) Kamang. Kamang adalah roh-roh leluhur dari orang dayak. Ia berpakaian cawat dan kain kepala warna merah dan putih diputar bersama ( tangkulas ). Ini juga pakaian dari pengayau kalau mereka pulang dengan membawa hasil. Kamang pandai melihat, mencium bau dan makanannya darah. Ini terlihat dari upacara-upacara adat. Darah untuk kamang dan beras kuning untuk jubata. Kamang tariu dan kamang 7 bersaudara. Kamang tariu adalah adalah Kamang Nyado dan Kamang Lejak. Sedangkan kamang 7 bersaudara adalah Bujakng Nyangko ( yang tertua ) tinggal dibukit samabue, Bujakng Pabaras, Saikng Sampit, Sasak Barinas, Gagar Buluh, Buluh Layu’ dan Kamang Bungsu ( dari Santulangan ). Bujakng Nyangko adalah kamang yang baik. Sedangkan yang lain terkadang baik dan terkadang jahat. Saikng sampit, Sasak Barinas, Gagar Buluh dan Buluh Layu’ adalah kamang yang sering tidak senang dan menyebabkan pada waktu itu penyakit dan kematian. Kamang Tariu dengan 7 bersaudara itu adalah pelindung dari para pengayau. (4) Antu. Jumlah antu ( hantu ) banyak sekali. Dalam arti tertentu, mereka kurang lebih jiwa orang mati. Antu selalu menyebabkan penyakit pada manusia, binatang maupun tumbuhan. Antu cacar menyebabkan penyakit pada manusia. Antu apat menyebabkan penyakit padi dan antu serah menyebabkan banyak tikus makan padi diladang.

Kepercayaan pada 4 tingkatan ilmu theogoni (ilmu dewa-dewa) inilah yang melahirkan asas-asas kehidupan mereka, yakni: (1) Pama. Pama artinya berkat, yaitu satu kekuatan yang membawa keuntungan. Pama hanya dimiliki oleh orang besar dan juga pengayau yang berhasil. Mereka mempunyai pama karena dianggap mereka mempunyai hubungan keatas, dengan jubata. Kalau orang yang mempunyai pama meninggal, pama pindah kepantak yang pada akhirnya ditempatkan dipadagi. Kata pama sendiri berasal dari bahasa sanskrit = umpama, berarti gambaran. Pantak adalah gambaran seseorang yang mempunyai pama pada waktu dia hidup. (2) Jiwa. Orang Dayak mengenal ada 7 jiwa. Yaitu : Nyawa. Hanya manusia dan binatang yang mempunyai nyawa. Nyawa hilang waktu meninggal. Sumangat. Bukan hanya manusia mempunyai sumangat, tetapi juga binatang, tanaman dan benda-benda. Ini dapat dilihat dari doa-doa persembahan yang selalu diakhir dengan memanggil kembali sumangat manusia, padi, babi, ayam, beras, emas, perak dan semua milik rumah. Sumangat dengan mudah keluar dari tempatnya. Kalau terkejut, sesudah suatu perbuatan yang berbahaya yang didampingi oleh ketakutan, sesudah memandikan anak kecil ( bahaya sumangat anak hilang bersama dengan air ). Sesudah melahirkan juga diadakan upacara nyaru’ sumangat. Cara sederhana untuk memanggil sumangat kembali : kurrr….a’ sumangat. Mimpi disebabkan oleh sumangat, karena itu sumangat berjalan. Kalau kita sebut nama seseorang, sumangatnya pasti datang dengan kita dan kita akan bertemu dengan semangat orang itu dalam mimpi. Tempat sumangat ada dalam badan. Sumangat dikembalikan dalam badan oleh dukun baliatn lewat telinga kiri. Sesudah manusia meninggal, sumangatnya tidak menjadi pidara, tetapi pergi ke subayatn. Sumangat dari orang yang dibuatkan pantak pergi ketempat pantak itu dan bergabung dengan kamang. Ayu. Tempat ayu ada dibelakang badan. Kalau ayu pergi, ayu dikembalikan dipermulaan punggung ( ka’ pungka’ balikakng ), dibawah leher. Ayu melindungi manusia dari belakang. Penyakit yang disebabkan oleh kehilangan/kepergian ayu jauh lebih parah daripada penyakit yang disebebkan oleh kepergian sumangat. Dikatakan “ lapas ayu “ atau rongko’ ( sakit ayu ). Sesudah orang meninggal, ayu menjadi pidara dan tetap tinggal bersama dengan badan. Ada hubungan erat antara ayu dengan hantu. Ayu juga disebut hantu. Sukat. Dalam doa selalu dikatakan “ sukat nang panyakng satingi diri’ “ artinya sukat yang panjang setinggi kami sendiri. Pertama sukat menunjuk kepada satu bagian dari badan manusia, mulai dari atas kepala lewat otak ke sumsum belakang. Penyakit bisa disebabkan oleh kekurangan sukat. Bohol. Bohol bersifat anatomis yakni garis perut dari tulang dada ke pusat atau lebih khusus tempat dibawah tulang dada yang berdenyut. Kurang bohol atau bohol yang tidak lurus adalah sala satu sebab penyakit. “ kakurangan sukat nang manyak, kakurangan bohol nang jarakng “ demikian dukun menyebutkan sebab penyakit pasiennya. Penyakit karena kekurangan bohol terutama dialami oleh anak kecil. Dari wnaita yang sulit beranak dikatakan “ mereng bohol anak “ artinya bohol anak bayi miring. Dukun baliatn pandai mencari bohol yang hilang.Leo Bangkule. Leo Bangkule berarti jantung, hati, paru-paru atau semua organ dalam perut manusia. Dalam doa, leo bangkule sering diundang kembali. Bersama dengan leo bangkule selalu dikatakan : tali nyawa atau tali danatn atau tali dane. Untuk manusia, tali nyawa berarti saluran pencernaan. Nenet Sanjadi. Nenet Sanjadi disebut juga saluran pernafasan ( tali sengat ), permulaan dari tali mulai dari karukok ( kerongkongan ).

Dalam legenda Ria Sinir dan Dara Itapm, kita mengenal 5 prinisip kehidupan yang ditetapkan berdasarkan adat, yaitu: Hidup harus tolong menolong, Harus hidup mempertahankan keamanan rakyat dan desa, Tidak boleh hidup tipu-menipu, Harus jujur dan adil, dan Harus hidup setali sedarah. Bagi pelanggar 5 sumpah adat ini, maka akan diberlakukan Hukuman adat bagi manusia yang terdiri dari 2 pokok: Hukum Adat Darah Putih (Perdata) dan Hukum Adat Pati Nyawa (Pidana). Orang Dayak mengenal 4 tingkatan Hukum Adat, yaitu: (1) Siam. Hukuman siam adalah satu hukuman yang harus membayar adat. Dengan membayar adat berarti telah membereskan segala urusan. Dengan demikian telah menghilangkan rasa dendam dan rasa rugi dari orang yang dirugikan. Bilaman telah membayar adat ini, telah pula memulihkan keadaan alam. Harga satu siam adalah 7 buah piring, 20 buah mangkuk dan seekor babi. (2) Buat Tangah. Hukuman ini adalah hukuman atas perbuatan ringan ( tindak pidana ringan) dan yang ditimpakan kepada pelanggaran yang dapat berdamai dengan lawannya tanpa campur tangan orang ketiga. (3) Baras Banyu Banyang. Hukuman ini termasuk hukuman ringan. Suatu persoalan yang mudah diselesaikan tapi memerlukan 2 orang saksi. Untuk menyelesaikan persoalan, cukup dan harus menyediakan baras banyu ( beras putih dicampur dengan minyak tengkawang ). Beras banyu dicurahkan kesebuah piring dan diletakkan kehadapan saksi dan kepada si penuntut. Perbuatan ini menyatakan telah membayar adat dan segala persoalan dianggap selesai. Dan (4) Darah Ampa’. Hukuman jenis ini menyatakan bahwa seseorang yang tidak sanggup membayar adat karena sangat miskin walaupun sebenarnya ia mau dihukum. Suatu hukuman hina dan sangat terhina bagi pelaku. Biayanya kalau si pelaku tidak mampu, dapat dengan cicilan sampai turunan ke lima. Sipelaku dituntut menyediakan sirih pinang dan kelengkapannya makan sirih. Semua kelengkapan itu dikunyahnya( pelaku ) sampai air ludah menjadi merah seperti darah. Ludah merah ini dikumpul dalam satu piring dan diserahkan kehadapan Pasirah dan Pangaraga ( Hakim kampung ). Pelaku kemudian mengucapkan ; “ karena saya telah bersalah dan tak snaggup membayar adat, karena saya seorang miskin maka inilah darah penggantinya “. darah Ampa’ segera diambil oleh hakim dan dicontengkan ke dahi pelaku. Perbuatan ini disaksikan oleh seluruh rakyat. Karena itu hukuman jenis ini paling dihindari oleh warga. Mengakhiri acara peradilan, diiringi upal dengan upacara adat untuk berdoa agar Jubata tidak menghukum warga kampung secara umum.

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PENTING DI TANAH KALIMANTAN
Ada 3 tahap perkembangan penting di Kalimantan; (1) memberadabkan Dayak melalui misi agama (Hindu, Islam dan Kristen) dan politik identitas (Dayak dan Melayu), (2) Kapitalisasi Tanah. Ini terjadi sejak tahun 1960-an sampai sekarang ini. Serta (3) Demokratisasi. Memperkenalkan konsep universalitas-demokrasi-pluralisme, dll dikalangan Dayak.

Memberadabkan Dayak
Sejak awal abad 1, pedagang India membawa ajaran Hindu di tanah Kalimantan. Terjadi barter barang pedagang dengan penduduk. Peralatan Besi dan logam diperkenalkan.
Awal abad 4, pedagang Cina dan Siam masuk. Terjadi barter barang lagi. Diperkenalkan keramik-keramik, guci, manik-manik, dll.
Pada abad 14, pedagang Cina (dipimpin Laksamana Cheng Ho) masuk dengan membawa ajaran Islam di Sambas. Penduduk yang tidak mau masuk Islam menyingkir ke hulu sungai dan pedalaman. Beberapa Raja berhasil masuk Islam setelah pedagang Arab dan Bugis masuk dan melakukan perkawinan dengan gadis setempat. Pan Islam semakin masif di pedalaman. Orang yang tidak mau masuk islam di angkat jadi pegawai kerajaan, dan yang masuk islam diberi identitas baru;”Laut, Senganan, dll”.
Pada masa ini, Pan Chinese masuk melalui Sultan-Sultan yang dikirim dari Brunei untuk menambang emas, khususnya di Monterado (Kabupaten Bengkayang, pen) dan Mandor (Kabupaten Landak, pen). Awalnya koloni ini sedikit, seiring perkembangan perdagangan emas yang semakin baik, Cina dari daratan didatangkan. Mereka mendirikan perusahaan yang dikenal dengan nama Kongsi. Ratusan kongsi bersekutu, sehingga membentuk semacam negara “republik” yakni Lan Fang di Mandor dan Hae Sun di Monterado. Republik ini beberapa kali berperang dengan Sultan dan Orang-Orang Dayak, untuk memperoleh akses sumber daya alam yang melimpah.
Pada abad 16, Kristen masuk melalui pegawai-pegawai kolonial Belanda yang dikirim dari Batavia (Jakarta sekarang, pen). Belanda diundang Sultan yang terdesak dalam peperangan melawan “Republik” Lan Fang dan Hae Sun. Terjadi perjanjian antara keduanya. Hasilnya, Belanda berhasil membubarkan Kongsi-kongsi. Para penambang dan pedagang emas beralih profesi menjadi petani, pekebun dan peternak. Yang tidak mau tunduk pada Belandak, sebagian diantaranya melarikan diri ke Sarawak dan Singapura. Sebagian kecil pulang ke Cina daratan. Pemerintah Belanda memperbolehkan misionaris dan zending masuk pada awal abad 19, didorong oleh masifnya gerakan pan islamisme di perhuluan dan pusat-pusat perdagangan penting. Untuk mempermudah kontrol penduduk, Belanda memberlakukan politik identitas; muslim di sebut Melayu dan non Muslim disebutnya Dayak. Dalam prakteknya, Melayu dikenal sebagai pegawai pemerintah dan Dayak sebagai pembayar pajak setia. Untuk masuk menjadi pegawai, Dayak harus merubah dirinya menjadi Melayu. Dayak yang masuk Melayu dikenal sebagai Senganan, Urakng Laut, dll dan tidak mau mengaku diri sebagai Dayak. Menjelang akhir abad 19, Dayak berusaha melakukan kooptasi, dan berhasil melalui jalur politik; Partai Persatuan Daya. Dayak mulai percaya diri, dan dengan identitas baru; kami orang DAYAK. Tapi situasi ini tak berlangsung lama, kira-kira hanya dua puluh tahun (1941-1966).

Kapitalisasi Tanah. Proses ini mulai terjadi awal tahun 1960-an, ditandai dengan masuknya perusahaan-perusahaan yang mengelola kayu dan membangun perkebunan skala besar. Sertifikasi masal tanah terjadi melalui Jakarta. Undang-Undang dibuat untuk “menaklukan” tanah adat menjadi tanah negara. Jadilah 2,8 juta hektar tanah terkapling oleh ratusan perusahaan negara dan swasta asing. Perubahan besar terjadi pada Orang Dayak. Penduduk dari berbagai pulau berdatangan dan hidup bersama Orang Dayak. Terjadi dinamika sosial yang hebat; asli vs pendatang, untung vs rugi. Ekonomi menjadi jargon utama dalam pembangunan Dayak. Sebuah peradaban baru yang sarat perubahan yang sulit mereka ikuti dengan menguntungkan.

Demokratisasi. Perubahan besar yang terjadi sejak 1960 menyebabkan Orang Dayak mulai diambang kebingungan. Terjadi krisis identitas, krisis kepercayaan diri, dan berbagai krisis lainnya. Tanah dan Hutan semakin menyempit, penduduk mulai heterogen dengan komposisi yang relatif seimbang dan arus gerakan global; demokrasi-universalitas-teknologi. Orang Dayak mengalami kekhawatiran, menjadi asing ditanah sendiri atau mengikat diri untuk ambil bagian dalam perubahan.
Menurut pastor asal Belanda yang sudah menjadi warga Negara RI ini, sebelum Jepang masuk, propaganda mengenai Indonesia cukup kuat masuk didaerah Kalbar (pasti juga termasuk dikampungku). Aktivis Indonesia, katanya, juga keluar masuk kampong, membentuk pengurus dan mencari anggota. Banyak diantara orang kampong yang menjadi pengurus dan anggota. Dari sekian banyak Indonesianis, yang cukup aktiv dan didukung orang sekampung adalah Parindra dan P.A.B (Persatuan Anak Borneo). Pada waktu itu, orang kampong berbicara mengenai agama Katolik, agama Parindra dan agama P.A.B.
Dalam Majalah Battaki, edisi khusus Januari-Maret 1997, Pater yang sudah 49 tahun hidup ditengah orang dayak ini menulis, bahwa keadaan ini berubah drastic sesudah Jepang. Segala-galanya berubah. Orang Dayak, juga mengalami dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan caranya sendiri. Penjajahan Belanda dengan perantara Sultan dan Panembahan telah berakhir.
Orang Dayak (saya “merasa” bagaimana orang dayak ketika itu, ketika membaca buku ini) merasa diri sungguh-sungguh dihargai. Gubernur pertama dan 4 Bupati orang Dayak. Mereka adalah pejabat P.D (partai politik peserta pemilihan umum pertama di Indonesia tahun 1955, yang dibentuk oleh intelektual dayak untuk memperjuangkan orang dayak secara politik). Pembesar-pembesar ini semua beragama Katolik, alumni persekolahan Nyarumkop. Beberapa penyelidikan yang sudah pernah dilsayakan, menyebutkan bahwa mereka dapat diangkat karena mereka memperoleh suatu pendidikan yang baik di seminari menengah, sebelum Jepang.
Sepanjang sejarah Indonesia, Orang dayak (dan juga di kampungku), tidak pernah menuntut republic sendiri. Mereka dengan senang bergabung dalam Republik Indonesia. Aspirasi politik mereka, disalurkan lewat P.D. (Partai Dayak). Pada waktu itu juga, mulai muncul penyadaran bahwa sangat diperlukan suatu penyesuaian dengan zaman modern. Mereka mulai ingin ke sekolah-sekolah.
Mereka juga mulai menganut agama, Katolik. Banyak hal yang mendorong mereka untuk memilih agama ini, mereka sudah kenal dengan pastor-pastor dan suster-suster, yang melayani mereka dengan sungguh, secara khusus di bidang pendidikan dan kesehatan. Rumah-rumah sakit (dan RS Bersalin, pen) yang ada semua dari Gereja Katolik. Sekolah-sekolah kebanyakan sekolah Katolik. Satu hal yang terpenting, Gereja Katolik, menghargai adat, lebih dari agama lain.
Pendeknya, dunia orang dayak mulai terbuka. Dunia luar masuk dan mereka masuk dunia luar. Dan ini terjadi tanpa konflik yang berarti. Belum banyak jalan raya, perubahan terjadi tidak terlalu cepat. Identitas cultural tidak terancam. Dan…..sekitar tahun 1993, terjadi suatu perubahan besar….Ekonomi makro mulai berkembang, infrastruktur pedesaan membaik. Tetapi, keberadaan (kami) sebagai suku dengan identitas sendiri dan tanah sendiri mulai terancam.
Kampungku, yang sebelumnya dilihat sebagai suatu daerah yang kurang berguna, dengan tanah yang kurang subur, mulai dilihat sebagai suatu daerah yang potensial. Tanah ternyata cocok untuk banyak jenis tanaman, persediaan tambang banyak dan bermacam-macam. Sebuah perusahaan perkebunan swasta besar masuk, Rokan Group. Memiliki beberapa anak perusahaan, diantaranya PT Agrina (membuka lahan perkebunan kelapa hibrida seluas ±12.000 Ha di Desa Menjalin dan Desa Raba) serta PT Purna Kahuripan (membuka lahan perkebunan kelapa hibrida dan coklat seluas ±10.000 Ha di Desa Nangka dan Desa Rees).
Sejak itu, kampungku mulai terbuka…..Tetapi, akibat dari cara yang dipakai untuk membuka daerah, mengeksploitasi dan memproduktifkan sumber daya alam, lambat laun, orang di kampungku mulai hilang dari pusat perkembangan itu. Mereka hilang dari tempat dimana diambil keputusan mengenai masa depan tanah leluhurnya. Mereka masuk dalam bahaya besar menjadi orang pinggiran. Dan ini, terjadi karena dorongan dari luar, tetapi juga kelemahan diri mereka sendiri.
Secara umum, Orang dayak (dan juga dikampungku), hamper tidak ada lagi suara di pemerintahan, tidak ada orang dalam militer yang menempati jabatan strategis. Mereka juga tidak memiliki modal. Memang, mereka mempunyai tanah. Tetapi ini mulai diambil dari mereka (demi pembangunan) dengan bermacam-macam cara. Ekonomi dan kepentingan orang tertentu dalam praktek pembangunan menjadi lebih penting daripada keberadaan dan masa depan mereka sendiri. Mereka sering disepelekan dan disisihkan.
Di Borneo Barat, masih ada banyak guru orang dayak. Tetapi situasi inipun akan berubah drastic dalam 20 tahun mendatang. Dengan dihapusnya SGA tahun 1980-an, SPG tahun 1990-an, dan PGSD tahun 2000, kemungkinan untuk orang dayak menjadi guru sangat berkurang. Kalaupun sekarang ada FKIP di universitas negeri, orang dayak sulit masuk. Hanya ada peluang jika pemuda dayak mendaftar di STKIP swasta, tetapi berbiaya mahal. Sekolah-sekolah swasta yang dikelola Gereja Katolik diperkotaan, siswa dan mahasiswa umumnya bukan orang dayak. Sekali lagi, mereka kesulitan.
Orang luar memang pintar. Dengan kekuasaan ditangan, mereka memusatkan dan memperhatikan fasilitas pendidikan, ekonomi, pemerintahan di kota-kota besar, kemungkinan bagi orang dayak, menikmati itu dalam praktek cukup berkurang. Mereka tidak bisa mempergunakan nepotisme, dan juga tidak ada koneksi, tak bias kolusi dan tak punya uang upeti. Dalam praktek, semua bidang, dipusatkan di kota dan diurus oleh orang bukan dayak.
Sejak tahun 1981, berpuluh-puluh orang datang dari kota, keluar masuk kampong. Mereka ini utusan dari berbagai proyek besar pemerintah pusat di Jakarta. Ada proyek P2KP, P3DT, PPK, dll. Ada juga dari berbagai utusan LSM, yang kantornya di kota besar. Hamper setiap bulan, petugas-petugas khusus ini datang ke kampong dan menggurui orang kampong, memperlsayakan mereka sebagai anak yang masih bodoh, sampai orang kampong merasa diri lagi dalam keadaan zaman dulu: sultan atau panembahan dan mereka (dayak) sebagai bawahan.
Selama ini, saya juga menyaksikan langsung pergumulan dikampungku dan kampong-kampung sekitarnya. Dalam pembagian subsidi untuk bidang agama, misalnya, pemerintah memegang “teguh” distribusi uang/proyek untuk bangun rumah Tuhan dengan prosentase 90% islam dan 10% non islam, walaupun di Kalbar menurut statistic pemerintah tahun 1990, 41% Dayak dan 13% Cina. Ini berarti bahwa pasti 54% non-islam. Kelompok-kelompok non dayak mampu dengan bantuan pemerintah membangun rumah ibadat yang bagus, tetapi orang dayak (dan juga dikampungku) sering tidak mampu. Dan ini, sangat mengganggu perasaan keadilan dan kejujuran yang dimiliki oleh orang dayak.
Dan apa yang paling dirasakan oleh orang dayak adalah transmigrasi. Proyek ini telah berlangsung secara resmi sejak tahun 1960, 1970, 1980, 1990, 2000, dan sekarang. Yang tidak resmi (dengan bantuan pemerintah), saya rasakan justru paling besar. Untuk proyek transmigrasi itu, pemerintah menyiapkan tanah (dibebaskan) 2 hektar per keluarga, diberi sertifikat, rumah, jalan raya, puskesmas, rumah ibadat, biaya hidup selama dua tahun, dan lain-lain.
Para transmigran umumnya beragama islam. Mereka ditempatkan disatu tempat dan diisolir mula-mula (cukup lama) dari orang setempat. Dilain pihak, orang dayak disekitar lokasi pemukiman proyek transmigrasi kurang diperhatikan. Tetap dalam kondisi yang sengaja diciptakan sebagai yang tersisih.
Saya juga pernah merasakan sebagai anak transmigrasi. Selama 7 tahun (1982-1989), saya hidup dipemukiman transmigrasi ini. Namanya, proyek transmigrasi local. Tetapi dalam proyek-proyek itu, menurut cerita bapakku, korupsi pelaksana proyek sering begitu merajalela bahkan hamper tidak punya arti lagi bagi warga transmigrasi seperti bapakku. Warga transmigrasi local tidak diberi tanah 2 hektar, tidak ada sertifikat, tidak ada rumah ibadat, tidak ada puskesmas. Yang disediakan hanya rumah, dan biaya hidup selama dua tahun. Setelahnya, warga dituntut untuk mandiri. Akibatnya, mereka menjadi buruh tani (sewa lahan penduduk setempat untuk membuka sawah dan lading), buruh pada perkebunan karet. Lagi-lagi, mimpi untuk keluar dari kemiskinan pupus diera ini.
Saat ini, saya baru dapat mengerti bahwa ketidakpuasan orang dayak dengan situasi, bersama dengan suatu ketakutan besar bahwa terancam hilang dipulau sendiri, dan frustasi karena system dan kekuasaan, menyebabkan mereka terluka yang teramat dalam. Akibatnya, mereka keluar atau meledak dalam kemarahan besar terhadap suku lain, yang dianggap ancaman terdekat (fisik), dan terkadang terjadi berulang-ulang selama puluhan tahun lalu. Saya melihat dan mengalami sendiri ledakan amarah orang dayak ini ditahun 1984, 1987, 1996, 1997 dan 1999.
Kalau dikaji lagi lebih jauh, dari berbagai kerusuhan itu, kenapa umumnya generasi muda (usia SD-perguruan tinggi) banyak terlibat ? menurutku, hal teramat penting adalah karena mereka kecewa dan frustasi dengan situasi yang ada. Sekolah dan tidak sekolah sama-sama sulit untuk mendapat pekerjaan, meskipun proyek-proyek besar ada dikampung mereka.


Kesimpulan
Adat yang mencakup pengertian religi (world-view), norma, dan etika yang selanjutnya diperjelas oleh mitos merupakan pandangan hidup (way of life) bagi masyarakat holtikultural Dayak Salako dalam kehidupannya. Adat bersama mitosnya mempengaruhi dan membentuk sikap serta perilaku individu maupun komunitas terhadap alam dalam sistem kehidupan ini.
Berdasarkan world-view (pandangan dunia)-nya, masyarakat dayak salako mamahami manusia itu sebagai bagian dari alam dalam suatu bentuk sistem kehidupan. Bentuk sistem kehidupan ini merupakan lingkungan hidup bersama dari unsur manusia dan unsur-unsur lain yang non-manusia (organisme dan non-organisme). Kesemua unsur dalam sistem itu memiliki nilai dan fungsinya masing-masing. Pandangan kosmologi tersebut telah berdampak pada pemahaman mereka terhadap hubungan manusia dengan alam yang bersifat antropocosmic, yang berarti manusia dan alam menyatu, tidak terpisahkan, hal ini berimplikasi terhadap korelasi dari unsur-unsur dalam sistem kehidupan itu dimana manusia sebagai salah satu unsurnya tidak pernah memanifestasikan diri mereka sebagai raja penguasa atas alam. Pandangan kosmologi yang demikian itu melahirkan suatu etika lingkungan hidup yang tercakup dalam adat sehingga membuat masyarakat Dayak Salako mempunyai sikap menghargai, menghormati dan bersahabat terhadap alam.
Dengan demikian, manusia tidak dapat bertindak semau-maunya terhadap alam, mengeksploitasi alam sehabis-habisnya demi kepentingan ekonominya. Bagaimanapun juga kesejahteraan hidup manusia secara keseluruhan- termasuk kesejahteraan hidup generasi yang akan datang- tetap akan tergantung dari kesehatan dan kelestarian alam yang menjadi sumber penghidupan dan satu-satunya lingkungan hidupnya. Religi yang telah diwariskan para leluhur dan telah diuji dan dipraktekkan sepanjang sejarah kehidupan mereka sebagai peladang berpindah dan perambah hutan- telah berhasil melestarikan lingkungan hidupnya. Mereka melalui religinya telah berhasil membuat suatu bentuk kehidupan berkelanjutan (sustainable life) dalam kehidupan mereka.
Adat sebagai produk akumulasi dari pengalaman manusia-produk adaptive strategy dalam interaksinya dengan alam agar supaya mereka mampu bertahan hidup (survive)- telah berkembang menjadi budaya disepanjang kehidupan manusia tersebut. melestarikan budaya berarti melestarikan lingkungan hidup karena di dalamnya terdapat etika lingkungan hidup. Mencela budaya karena sifatnya lokal (ketinggalan jaman) berarti mencela para leluhur yang telah mewariskannya yang sekaligus menolak untuk melestarikan lingkungan hidup.
Dengan melestarikan budaya maka berarti kita semua – kehidupan manusia dan bumi-akan tetap SUNIO (lestari).

Akhirnya, saya ingin mengingatkan kita semua bahwa contoh-contoh di atas dipilih untuk memberi gambaran bahwa praktek keagamaan yang dilandasi kepercayaan agama asli di kalangan penganut agama-agama besar dunia dan disayai negara Indonesia masih marak. Sekalipun agama asli tidak memiliki hak legalitas tentang keberadaannya namun elemen-elemen tertentu dari agama asli ini masih dipelihara dan dipraktekkan oleh penganut agama dunia ini. Untuk mencari jawab sekitar daya tahan agama asli ini tidaklah terlalu gampang. Secara teori agama asli bisa meresap dan tetap dipelihara di balik agama dunia sebab sejak awal dalam para pewarta agama dunia itu memberi toleransi besar kepada praktek-praktek agama asli itu. Kasus inilah sinkretisme terang-terangan. Bahwa bagaimanapun, agama asli haruslah tetap dihargai sebagai bagian yang takterpisahkan dari peradaban dunia. Untuk mencari jawab sekitar daya tahan agama asli ini tidaklah terlalu gampang.
Secara teori agama asli bisa meresap dan tetap dipelihara di balik agama dunia sebab sejak awal dalam para pewarta agama dunia itu memberi toleransi besar kepada praktek-praktek agama asli itu. Kasus inilah sinkretisme terang-terangan. Bahwa bagaimanapun, agama asli haruslah tetap dihargai sebagai bagian yang takterpisahkan dari peradaban dunia. Tulisan ini sekaligus juga menyanggah bahwa adat Orang Dayak adalah agama, yang dalam ilmu sosiologis dan antropologis digolongkan sebagai agama asli. Dengan demikian, saya boleh katakan bahwa praktek adat bukanlah praktek animisme, sebagaimana yang dikatakan orang luar seperti sekarang ini. Untuk itu, saya menyarankan kiranya diperlukan dialog-dialog antar peradaban, baik penganut agama asli, evangelis protestan maupun katolik pada level komunitas.
Untuk menghindari konflik dikomunitas, saran saya bagi penginjil atau apapun namanya, yang mau menyebarkan agama dikampung ini ada baiknya terlebih dahulu mempelajari dan mendalami mitos-mitos dan upacara-upacara adat serta keagamaan mereka. Kemudian mereka (penginjil,dll) juga harus sanggup merumuskan ajaran-ajaran agamanya sesuai dengan sikap dan pandangan hidup mereka tanpa perlu mengorbankan nilai-nilai hakiki agama yang disebarkannya itu. Dengan demikian agama betul-betul bisa berakar dalam kehidupan masyarakat.


Tantangan
Bagaimanapun juga pengaruh mentalitas pencerahan yang mengglobal ini telah merasuki kehidupan kita, mengubah pandangan kita untuk menjadi tuan dalam segala hal. Masihkan adat, pandangan kosmologi dan mitos-mitos survive (bertahan hidup) ditengah kehidupan generasi muda suku Dayak Salako di era globalisasi sekarang ini? Pertanyaan ini merupakan bahan renungan untuk kita semua, khususnya generasi suku Dayak Salako, mengingat Indonesia tercatat sebagai “Rekot dunia” dalam hal penghancur hutan tercepat di dunia pada tahun 2000 – 2005 (Kompas, Jum’at 4 Mei 2007, silahkan baca lampiran di halaman sebelah).


Daftar Pustaka
Child, Alice B., et.al. Religion ang Magic in the Life of Traditional People. New Yeysey:
Prentice-Hall, 1993.

Darwin, Charles. The Origin of Spicies. Diterjemahkan oleh F. susiloharjo & Basuki
Harwono. Yogyakarta: Ikon Teralitera, 2002.

Dunselman, Donatus, OFM Cap. Bijdrage Tot de Kennis van de Taal en Adat der
Kanayatn Dayaks van West Borneo, 1950.

Hofes, M. Lewis. Religion of the World. New york: Macmillan Publishing Co., Inc.:
1983.

Johnstones, R.L. relogion and Society in interaction. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.,
1975.

Kottak, Conrad Phillip. Anthopology. The Ekploration of Human Diversity. New York:
Mcgraw-Hill, Inc. 1974.

Nugroho, Alois A. Fungsi rasio Alfred North Whitehead. Yogyakarta: Kanisius, 2001.

Otto, Rudolf. The Idea of the Holy. Translated by John W. Harvey. London: Pelican
Books, 1959

Priyono, Herry. Nilai Budaya Barat dan Timur Menuju Tata Hubungan Baru. Dalam
Jelajah hakikat Pemikiran Timur. Jakarta: PT. gramedia, 993.

Sanderson, Stephen K. Macrosociology. An Introduction to Human Societies. New York:
Harper Collins Purblishers, 1991.

Schleiermacher, Friedrich. On Religin. Translated by John Oman. New York: Frederick
Ungar Publishing Co. 1995.

Skolimowski, Henryk. Eco-Philosophy: Designing New Tactics for Living. London:
Marion Noyars Publishers Ltd., 1981.






Baca Selengkapnya..

DAYAK BANGKIT

Diposkan oleh Yohanes Supriyadi 1 komentar
Akhir tahun lalu diperingati secara besar-besaran 100 tahun Ordo Kapusin berkarya di Kalimantan Barat. Peringatan itu bagi penulis memiliki makna yang sangat penting, selain yang berkait persoalan agama, peringatan itu juga bermakna bahwa kira-kira seusia itulah sebagian kecil orang Dayak bisa mengenal budaya baca- tulis. Mengapa? Karena Ordo kapusinlah yang pertama kali mendirikan sekolah-sekolah bagi orang Dayak. Persekolahan Nyarumkop menjadi titik awal perkembangan orang Dayak itu. Pemimpin-pemimpin Dayak sejak masa ORLA dan sebagian dimasa kinipun adalah alumni persekolahan Nyarumkop.
Walaupun pada masa ORLA ada orang Dayak yang menjadi menjadi Gubernur dan Bupati, tetapi kehidupan sosiologis ketika itu belum membuat nyaman menjadi orang Dayak. Stereotif negatif seperti orang kuno, udik, boros, kotor, dlsb masih melekat kuat. Menjadi orang Dayak ketika itu sama dengan menjadi bahan olok-olokan. Kalau ada anak yang kotor,maka kata-kata yang keluar adalah ”seperti orang Dayak”
Keadaan semakin parah ketika ORLA jatuh dan digantikan ORBA, tokoh Dayak banyak yang dituduh terlibat PKI (tetapi tidak dibuktikan di pengadilan), hanya karena alasan yang tidak jelas pemimpin-pemimpin itu dipangkas, para pegawai negeri orang Dayak juga dipangkas. Maka ketika ORBA berkuasa orang Dayak hanya menjadi penonton, mereka bisa dihitung dengan jari saja yang bisa menjadi PN dan yang menjabat sekedar Kabiro hanya 1 orang, Kadis apalagi kanwil tidak ada. Untuk menjadi PN adalah sesuatu yang jauh, orang Dayak merasa seperti bukan hidup di negeri sendiri. Di dunia pemerintahan dan politik orang Dayak praktis tidak bisa berbuat apa-apa selama ORBA.

Di era ORBA itu sebenarnya sudah cukup banyak orang Dayak yang terdidik. Tetapi karena mereka sulit diterima menjadi PN, maka mereka memilih bekerja disektor non PN seperti Guru swasta, di RS swasta dan usaha-usaha swasta lainnya untuk bisa hidup dan eksis.Penyelenggaraan pemerintahan yang represif pada masa ORBA mendorong munculnya gerakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di tingkat Nasional. Sejumlah tokoh yang masih terkenal hingga kini, seperti ; Gusdur , Adnan Buyung Nasution, Gunawan Muhamad, dan masih banyak lagi adalah tokoh-tokoh LSM awal itu. Berkat berjaringan, maka di Kalbar LSM yang dikelola orang Dayak, bagai orang haus merindukan air. LSM seperti Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih (YKSPK) yang berdiri tahun 1981 banyak mendapat dukungan dari LSM-LSM nasional tersebut, terutama untuk pengembangan kapasitas SDMnya. LSMlah satu-satunya wadah ketika ORBA yang masih tersisa bagi orang Dayak untuk eksis dan masih bisa diperhitungkan. YKSPK ini berkarya dimulai dengan membangun persekolahan. Penulis bekerja di lembaga ini menjadi guru dari tahun 1986- 1992, tahun 1992-1994 penulis dikirim mengikuti kursus Pemetaan Partisipatif dan GIS baik di dalam maupun di Luar Negeri dan kemudian mendirikan unit PPSDAK tahun 1994-2000. Tahun 2000 penulis mendirikan YPPN dan tidak bernaung lagi dibawah payung YKSPK. Salah satu karya yang penulis anggap fenomenal dari karya PK ini adalah berhasilnya menyeragamkan penulisan kata ”Dayak”. Jika sebelumnya di berbagai literatur penulisannya berbeda-beda (Dyak, Dajak, Daya, Daya’ dll) maka setelah Konggres kebudayaan Dayak tahun 1992, literatur-literatur telah seragam menggunakan kata Dayak.

Aktivitas LSM, pada masa ORBA penuh tantangan, tetapi itulah yang justeru membuat orang Dayak menikmatinya (bukankah sesuatu yang menantang itu menarik? Bukankah sesuatu yang dilarang itu membuat orang penasaran untuk melakukannya?). Apalagi orang Dayak yang sulit diterima jadi PN, maka pelariannya adalah menjadi aktivis LSM. Orang Dayak yang bersinar di era ORBA adalah yang menjadi pemimpin LSM. Semakin kuat tekanan kepada LSM semakin bersinarlah LSM tersebut dan tentu saja pemimpinnya. Kehadiran aktivis LSM di kampung-kampung sangat dirindukan masyarakat. Mereka dijadikan pemimpin oleh orang-orang kampung (karena pejabat pemerintah dari orang Dayak dan pemimpin politik yang bisa disebut pemimpin tidak banyak dan umumnya keberpihakan kepada orang Dayak juga terkesan diragukan selain itu mereka juga jarang pulang kampung , sementara masyarakat Dayak di kampung membutuhkan pemimpin di kota).
Karena yang dikembangkan oleh LSM adalah berpikir kritis (bukan asal beda) maka orang-orang kampungpun di fasilitasi berpikir kritis. Terjadilan pergumulan-pergumulan kehidupan di tengah-tengah orang Dayak. Wujud konkrit dari pergumulan itu adalah meningkatkan kapasitas SDM. Orang Dayak difasilitasi oleh LSM (baik itu YKSPK, maupun LSM dari Gereja) untuk bisa sekolah. Pancur kasih misalnya menyelenggarakan program beasiswa mandiri. Sampai sekarang lebih dari 200 orang yang menerima beasiswa tsb. Saat ini selain YKSPK sejumlah LSM lain yang didirikan oleh orang Dayak tetapi tidak ekslusif Dayak juga mulai terasa kehadirannya di Kalbar. YPPN,YPB, Y Pahar misalnya juga mengembangkan pendidikan alternatif bagi anak-anak pedalaman, dengan tahap awal mendirikan SD mini di Kec mempawah Hulu dan sekarang mendirikan SMK Pahar di Menjalin. Bedanya sejumlah LSM itu tidak lagi melihat Dayak dalam konteks etnosentrisme tetapi Dayak dalam konteks plularisme dan multikulturalisme.
Sekarang mulai tampak bahwa di berbagai sektor telah ada orang Dayak yang ahli. Tetapi mereka tidak terakomodir dalam bidang pemerintahan (disinilah kemudian terjadi pergumulan antara politik- SDM- Identitas yang paling kongkrit). Saat ini misalnya ada orang Dayak dari Landak yang menjadi Rektor di Universitas Katolik di Nairobi Kenya, ada juga yang bekerja di Toronto Kanada, di Roma Italia (semua mereka tak terekspos) ada pula yang menjadi dokter di Amerika serikat. Ketika penulis Kursus di Kanada, penulis bertemu orang Dayak yang memiliki percetakan di Vancouver. Keberhasilan mereka telah menjadi pendorong orang Muda Dayak untuk terus meningkatkan kapasitas SDM. Walaupun jumlah orang Dayak yang terdidik masih sangat sedikit (kira-kira baru 1% dari total populasi Dayak), tetapi hal ini telah melahirkan sikap “mulai bangga menjadi orang Dayak”.

Berbagai pergumulan dalam kehidupan orang Dayak telah menjadi inspirasi pembelajaran yang penting bagi eksistensi mereka. Mereka melakukannya sebenarnya hanya ingin bisa hidup sejajar dengan suku bangsa lainnya di Kalbar. “Traumatic” masa lalu yang menempatkan orang Dayak pada posisi yang lemah telah menciptakan solidaritas yang tinggi diantara mereka. Predikat yang diberikan kepada orang Dayak “bodoh” telah menjadi pelecut bagi sebangian dari mereka untuk belajar gigih dan menunjukan bahwa mereka sebenarnya “cerdas”. Predikat yang diberikan kepada orang Dayak “boros” telah menjadi inspirator bagi berkembangnya Credit Union di Kalbar. Singkatnya berbagai predikat “buruk” masa lalu berupaya untuk dibalik, dan dibantah . Kata kuncinya adalah pengorganisasian masyarakat. Ketika masyarakat sudah terorganisir, maka berbuat baik untuk tujuan apasaja akan mudah didukung.
Perubahan Format Politik Nasional telah menjadi pendorong yang signifikan pada keterlibatan kembali tokoh-tokoh orang Dayak dalam kancah perpolitikan local setelah pada rezim ORBA dimarginalkan. Kemampuan Orang Dayak berpolitik seperti yang pernah dilakukan JC Oevang Oeray, dkk menjadi referensi yang baik Banyaknya Partai Politik sekarang telah menjadi ladang tokoh-tokoh politik Dayak untuk menyalurkan kemampuan kepemimpinannya. Disatu sisi hal ini menguntungkan orang Dayak tetapi disisi lain telah menimbulkan gesekan yang sensitive konflik diantara mereka, tetapi justeru disitulah orang Dayak mendapat arena belajar baru yang menarik.

Traumatik akibat termarginalkan pada masa ORBA telah menjadi tema-tema issue politik yang dikembangkan sebagian politisi orang Dayak dan masyarakat akar rumput sekarang ini. Pada tataran psikologis hal ini dapat dipahami tetapi dalam kerangka membangun kehidupan multikultur , keadaannya menjadi lain. Saya kira ini menjadi bahan refleksi kebangsaan secara holistik. Yang Celaka di sebagian propinsi di Indonesia (ACEH dan Papua) berlaku pula sistem khusus, perlakuan pemerintah pusat demikian telah semakin mempersulit dan menjadi tantangan upaya membangun sistem politik yang multikultural, karena daerah lain merasa memerlukan pula perlakuan khusus itu. Akibat nya perpolitikan lokal menjadi carut-marut yang bernuansa hegemoni etnisitas.

Nah, munculnya era kebangkitan kembali orang Dayak adalah sebuah perjuangan kolektif dari orang-orang dari suku tersebut. Pergumulannya sangat keras dan rumit. Diperlukan pengorganisasian yang tidak kenal lelah, intensif dan berkesinambungan. Faktor pernah ditindas, dihina dan dimarginalkan adalah faktor pelecut untuk membalikan keadaan. Tetapi supaya tidak sombong dan besar kepala yang berakibat pada politik balas dendam berbasis kesukuan maka perlu dimasyarakatkan perspektif pluralisme dan mutikulturalisme yang terpadu.. Satu hal yang penting, adanya kebangkitan kembali orang Dayak tidak akan menjadi ancaman bagi suku-suku bangsa lain di kalbar. Prinsip hidup ” Adil ka Talino, Bacuramin ka Saruga dan Basengat ka Jubata” senantiasa akan mengiringi kehidupan orang Dayak sehingga Kalbar akan selalu nyaman bagi suku-suku bangsa lainnya. Mari Kita berjuang untuk membangun sistim politik lokal yang multikultural di Kalbar ini. Adanya semacam”kompetisi” antara Dayak dan Melayu di Kalbar adalah wajar dan itu akan menciptakan ”Chemistry” yang unik khas Kalbar ke depan. Yang paling penting mari kita meningkatkan kapasitas SDM kita, apalah artinya kita di pimpin oleh orang kita sendiri tetapi kapasitas SDM pemimpin itu tidak cukup mampu untuk membangun kesejahteraan seluruh warganya.Amin.

Baca Selengkapnya..